Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Menulis Motivasi, Jurus Andalan Terapi bagi Jiwa

Gambar
Sahabat, bagaimana harimu hari ini? Ada yang ingin kamu ungkapkan? Mungkin ada yang sudah mengenal saya lewat jejak tulisan baik di Instagram maupun di blog dan face book, atau sebagai penulis ideologis. Namun, di balik itu semua, saya adalah seorang wanita yang pernah terluka dan saya telah menemukan satu 'pelukan hangat' paling jujur yaitu menulis. Pernahkah kamu merasakan hal yang sama? Saat jiwamu seperti ruangan yang terlampau penuh? Penuh sesak oleh kekecewaan kemarin dan kecemasan? Di saat dunia luar tidak memberikan validasi yang kita cari, saya menemukan bahwa tempat berlindung teraman adalah di selembar kertas kosong. Menulis bagi saya bukan sekadar merangkai kata untuk menjadi karya, melainkan cara menciptakan ruang aman di dalam diri. Ini adalah bentuk self-love tertinggi dan terapi jiwa paling murah yang bisa kita lakukan, lho. Sebagai bentuk karya, saya telah menulis buku kisah inspirasi berjudul Metamorfosa Cinta, buku quote motivasi dan buku kisah inspirasi Mera...

Pantun GLS

Gambar
  Assalamu'alaikum Berikut ini contoh pantun untuk lomba GLS:  1. Pantun tentang takwa Mawar merah harum baunya Mawar putih terikat erat Hidup di dunia hanya sementara Takwalah bekal akhirat 2. Pantun tentang toleransi Pagi-pagi pergi sekolah  Agar jadi anak pandai Toleransi itu indah Hidup kita jadi damai 3. Pantun tentang mandiri Siang-siang pulang sekolah Lewati kolam baunya amis Belajar mandiri jangan lelah Agar hidup selalu optimis 4. Pantun tentang literasi Pagi buta pergi bertamu Pulangnya beli buah rambutan Membaca buku menambah ilmu Bekal hidup di masa depan 5. Pantun tentang berbagi Malam hari di kota Mekah Ada bintang bersinar terang Berbagi itu sangat indah Kebahagiaan takkan berkurang 6. Pantun cinta tanah air Saya punya burung dara Saya beli burung nuri Kalau kamu ke Australia Jangan lupa negeri sendiri 7. Bernalar kritis Kalau kita selalu iri Pasti tidak punya kawan Jika prasangka kuasai diri Akan sulit cari kebenaran 8. Cinta damai Pagi h...

Goru Si Dugong Pemalas

Gambar
  Di perairan dangkal Pulau Cempedak Kalimantan Barat hiduplah seekor Dugong bernama Goru. Dia sedang bersenang-senang.  Goru bertubuh besar dan gerakannya sangat lambat. Dia suka tidur di padang lamun dan mengunyah rumput laut dengan santai. Kemudian, dia bernyanyi merdu. Cik cik periuk bilanga sumping dari jawe. Datang nek kecibok bawa kepiting dua ekok cak cak bur dalam belanga picak idung gigi rongak. Sape ketawa golok dipacung raja tunggal. Saat sedang asyik, tiba-tiba seseorang yang memanggilnya. “Goru!” panggil Dudu. “Kita balapan berenang, yuk.” Goru berhenti bernyanyi. Dia tidak menjawab dan hanya melirik pada Dudu.  Dudu paham dengan isyarat itu. Goru selalu menolak diajak berolahraga lalu Dudu meninggalkan Goru sendirian. “Ah ... ngapain capek-capek berolah raga, sih!”  “Balapan renang pula. Enakan juga santai begini.  Hidup itu harus dinikmati.” Goru melanjutkan aktivitasnya. Namun, tiba-tiba wajah Goru mengernyit. Kemudian, ia melepehkan makanan yan...

Berbeda, Tapi Satu

Gambar
  Pada hari Minggu pagi yang cerah sang surya mulai naik dari peraduan. Seluruh masyarakat Desa Batu Raja sedang sibuk bergotong royong membersihkan lingkungan. Mereka saling membantu satu sama lain membersihkan got, membakar sampah, dan merapikan jalan yang sering tergenang air saat hujan datang.  Sementara aku hanya lesu memandangi semua orang yang tengah sibuk bergotong royong.   “Hei, Salsa, jangan melamun saja. Bantulah beta, sini.” Johan memanggilku seraya menyerahkan sapu lidi.  “Alah, kerjakan saja sendiri jangan manja. Kulit ente yang legam itu memang cocok kalau kerja di lapangan panas begini, kalau aye nanti bisa melepuh,” ucapku judes. “Ish, jangan berkata seperti itu. Orang cantik seharusnya hatinya juga cantik, dong. Kenapa kamu terlihat macam sapi galak begitu.” Johan mulai berisik. Dia menggangguku yang sejak tadi asyik melamun. “Hey, jangan panggil aye seperti itu, ya. Babe aye ini juragan kontrakan, kalau situ panggil aye sapi galak nanti aye n...

Potret Pilu Tunas Bangsa

Puisi 1 Tunas bangsa lahir di jalanan Menjerit dalam kelaparan Bertebaran di penjuru kota Demi menyambung hidup Bocah malang itu  Terkurung dalam sangkar dunia Cahaya dalam jiwanya telah sirna Di telan kejamnya angkara Ia mengadu pada malam Tentang rintihan dan lara Dingin malam menjadi selimut Ketika kesunyian menyiksa Ia menyanyikan air mata Bertahan dalam serpihan derita Tidur beratapkan langit malam Beralaskan debu jalanan Anak jalanan tumbuh bereinkarnasi  Menjadi manusia tangguh Yang berjiwa ksatria Bermental baja Jangan menguliti dirinya Ia terlalu pagi mengenal luka Karena setiap tutur kata yang tak terjaga Tajam mengoyak jiwa Puisi 2 Gadis kecil yang malang Dia menyanyikan air mata Jangankan punya mimpi Dia hanya ingin mencari sesuap nasi Bunga kecil yang layu sebelum mekar Terpejam di kolong jembatan  disaksikan dinding yang koyak hanya ditemani debu jalanan Jiwa-jiwa yang malang  Hidupnya dalam kegelapan Redup tanpa cahaya Tenggelam dalam kesengsaraan Gadi...