Postingan

Tips Menulis Novel Fantasi untuk Penulis Pemula: Dari Ide hingga Naskah Siap Terbit

Gambar
  Oleh Mahyra Senja, penulis novel fantasi Misi Rahasia Sang Petualang Waktu Pernahkah kamu membayangkan sebuah pintu yang bisa membawamu ke dimensi lain, lalu berpikir, "Seandainya ini kutulis jadi novel?" Tenang, hampir semua penulis fantasi memulai dari khayalan seperti itu. Bedanya, mereka tidak berhenti di khayalan. Mereka mengubahnya menjadi cerita yang tertata, dengan dunia yang jelas, tokoh yang hidup, dan naskah yang rapi. Tulisan ini menuntunmu langkah demi langkah dalam 12 langkah, mulai dari mencari ide sampai menyunting naskah. Contoh-contohnya saya ambil dari pengalaman menulis novel Misi Rahasia Sang Petualang Waktu, sebuah fantasi remaja tentang empat anak penjelajah waktu. Di setiap langkah ada penjelasan, contoh, latihan singkat, dan kesalahan yang sering terjadi, jadi kamu bisa langsung mempraktikkannya. Peta Perjalanan: 4 Tahap Menulis Fantasi Tahap Langkah Hasil A. Merancang fondasi 1–4 premis, buku dunia, aturan keajaiban, garis waktu B. Menyiapk...

Penilaian Formatif Membuat Komik Digital

Gambar
  Membuat Komik Digital Siswa SMP Islam YKS  Kelas: IX  Jenis Penilaian: Proyek Formatif Tahun Pelajaran: 2026/2027 Waktu pengerjaan tugas : Gelombang 1 awal Oktober 2026 A. Daftar Nilai Akhir Siswa No. Nama Siswa Kelas Nilai Akhir 1 Chelsea Awaliyah IX.1 90 2 Ika Musyarofah IX.1 90 3 Khoirul Fahri IX.2 88 4 Alfiya IX.1 83 5 Lidya IX.3 85 6 Amelia IX.3 86 7 Helza Nourida IX.1 87 8 M. Syafiq Arasya IX.3 83 9 Yuanita IX.2 87 10 Aisyahti Rahma IX.1 85 11 Isquranum IX.1 80 12 Meisya IX.1 80 13 Jihan Fauziyah IX.1 83 14 Mutiara IX.1 83 15 Ramona Maulidianti IX.1 85 16 M. Fadillah IX.1 84 B. Rubrik Penilaian Proyek Komik Digital Rubrik ini digunakan untuk menilai proses pengerjaan dan hasil akhir komik digital siswa. No. Aspek Penilaian Bobot 1 Isi dan kesesuaian tema 25% 2 Kreativitas cerita dan karakter 20% 3 Struktur cerita dan penggunaan bahasa 20% 4 Kreat...

Dilema Instruktur Muslimah

Gambar
  "Bergerak menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar merawat anugerah raga. Namun, ketika garis antara tuntutan profesional dan norma spiritual bersinggungan, seorang pendidik dituntut untuk berjalan di atas kompas nilai yang lurus." Bagi seorang ustazah sekaligus pengajar tahsin, melakukan gerakan senam yang dinamis—atau yang sering diistilahkan dengan "jingkrak-jingkrak"—adalah hal yang tabu untuk dilakukan, apalagi jika dilakukan dalam sesi latihan bersama antara laki-laki dan perempuan. Namun, dalam pelaksanaan olahraga tersebut, terdapat adab dan aturan syariat yang harus dijaga, yakni posisi barisan di mana laki-laki berada di depan, sedangkan perempuan berada di belakang. Hal ini tentu memiliki tujuan mulia: diharapkan kaum laki-laki tetap menjadi pemimpin dan penglihatannya tidak terfokus pada perempuan. Namun, untuk lebih meminimalisir hal-hal yang kurang berkenan, sebaiknya kostum yang digunakan oleh instruktur perempuan benar-benar memenuhi standar sy...

Noktah Atap yang Retak

Gambar
 BAB 2: RUMAH YANG MENDENGAR SEMUA LUKA "Ada perang, Cing!" celetuk Rizki saat tiba di halaman rumah tetangganya sambil terengah-engah. beberapa kerabat yang bermukim tak jauh dari situ menyimak ucapan anak kecil itu. "Siapa yang perang? Ntu Nyak sama Babeh lu?" "Iya! Mang napa, ya? Babeh gila janda katanya. Terus Ema mau dimatiin," ceroscos Rizki polos. "Masa, sih? Mungkin lu salah dengar kali. Kagak mungkin babeh lu begitu, pan sudah tua. Masa pakai gaya begitu?" "Ncang lihat saja sendiri! Mungkin Babeh lagi pubertas." "Apaan itu pubertas? Anak zaman sekarang kalau ngomong suka pakai kata-kata yang kagak gue mengerti," gumam sang paman sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tak jauh dari situ, Saripah—kakak kandung Andre—sedang mengobrol di depan teras bersama suaminya. "Saripah, tolong lu samperin itu si Andre, adik lu," suruh suaminya pelan. "Emang ngapa, Bang?" "Berantem lagi katanya sama bininya....

Noktah Atap yang Retak

Gambar
 BAB 1: PAGI YANG TIDAK PERNAH TENANG Pagi belum benar-benar terang, tetapi Anna sudah terbangun lebih awal dari penghuni rumah lainnya. Di dapur kecilnya, ia memotong bahan seadanya untuk menyiapkan sarapan dan merapikan kebutuhan anak-anak yang harus pergi sekolah. Usai dapur agak rapi, Anna duduk di sudut meja makan. Ia mengambil ponsel, membuka aplikasi perbankan dan dompet digital, lalu mulai menghitung sisa dana yang tersisa di rekeningnya. Matanya menatap nanar deretan angka di layar. Tagihan kuliah anak pertama, biaya sekolah Afika dan Ilham, hingga iuran pesantren Rizki menumpuk menanti penyelesaian. Belum lagi untuk belanja dapur sehari-hari. Uang gajian mengajar Anna bulan ini sudah menipis, nyaris habis tak berbekas. Di kamar, Andre—suaminya—masih berbaring di atas kasur dengan sarung melilit pinggang. Jemarinya sibuk mengusap layar ponsel, scrolling media sosial tanpa henti. Sesekali ia terkekeh sendirian melihat video lucu yang lewat di linimasa, seolah tak ada beban ...

Menembus Batas Prestise Meniti Rida Ilahi

Gambar
Di era digital ini sebuah pencapaian dan pengakuan publik, terselip sebuah renungan yang mendalam. Tulisan ini adalah sebuah catatan hati tentang bagaimana meluruskan niat, meredam ambisi semu, dan mengalihkan orientasi hidup agar tidak sekadar mencari nama di pandangan manusia.  "Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Talaq: 2–3) Saat ini saya sering kali merasa heran dengan fenomena yang marak terjadi. Begitu banyak orang berlomba-lomba mengejar prestise. Setelah saya mempelajari makna kata prestise lebih dalam, barulah saya memahami alasan di balik ambisi tersebut. Lembaga tempat kita bernaung, hasil prestasi, pencapaian, hingga latar belakang pendidikan sering kali dianggap sebagai instrumen ampuh untuk menaikkan prestise. Jujur, saya pribadi saat ini belajar menge...

Menemukan Makna di Balik Panggung Transformasi: Perjalanan GTK Inovatif Kota Depok

Gambar
  "Transformasi sejati dalam pendidikan bukanlah tentang seberapa mahal teknologi yang kita tampilkan, melainkan seberapa dalam akar budaya yang kita lestarikan dan seberapa nyata dampak yang kita berikan pada jiwa siswa." Sebuah langkah kecil sering kali bermula dari dorongan sederhana: sebuah ajakan dari teman, keraguan di awal, hingga keputusan untuk mencoba melangkah keluar dari zona nyaman.  Pengalaman mengikuti ajang Guru Tenaga Kependidikan (GTK) Kreatif dan Inovatif di Kota Depok memberikan banyak pelajaran berharga tentang ketulusan, proses, dan arti sebuah perubahan. Berikut adalah catatan reflektif dari perjalanan tersebut. Mengubah Keraguan Menjadi Prestasi Awalnya, keikutsertaan saya dalam ajang GTK Inovatif di Kota Depok bermula dari motivasi seorang rekan seperjuangan. Berbekal dorongan tersebut, saya, menyiapkan naskah praktik baik berjudul "DEPOK BERCERITA: Transformasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Melalui Digitalisasi Cerita Lokal untuk Menguatkan Lite...