Postingan

Membaca Garis Waktu

Gambar
  Aku yang kini beranjak di usia senja, tak lagi bisa merasakan kesempatan yang sama dengan mereka. Waktu telah mengambil semuanya. Aku harus bertarung dengannya, aku berkejaran dengan mimpi yang tak kunjung diraih. Di saat orang lain telah purnabakti, aku baru mulai melangkah. Di saat tubuh tak sempurna, aku malah bergerak bebas. Di saat wajah telah keriput, aku malah eksis di layar media. Hari ini lelah rasanya langkah ini, bahkan hampir berhenti. Aku menyesal, kenapa aku memilih keputusan yang begitu sulit? Mengapa aku baru bisa bangkit di saat waktu telah habis? Aku menyaksikan begitu banyak yang tumbang, tetapi aku masih di sini menanti keajaiban datang. Aku masih di sini menggeluti jejak ilmu. Aku masih sibuk baca tulis, entah sampai kapan? Aku yang masih setia di sini bersama harapan. Akankah aku juga akan layu? Bagai bunga yang kehausan, bagai ranting yang kering, dan bagai pohon yang hampir tumbang. Aku juga ingin menepi dari rasa yang hampir mati. Lelah yang tak berujung....

Di Balik Layar yang Redup, Ada Jiwa yang Tetap Menyala

Gambar
  Waktu seolah melambat saat sebuah pesan masuk di grup utama mahasiswa. Di sana, tertulis kalimat-kalimat tajam tanpa filter yang seketika meruntuhkan perasaan. Tuduhan tak berdasar itu nyaris melempar jiwa ini ke dalam penyesalan yang tak berkesudahan.  Pikiran mendadak buntu, dipenuhi rasa gagal, seakan dunia berhenti berputar pada detik itu juga. Butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk sekadar mencerna dan menerima kenyataan pahit tersebut. Pemicunya adalah penilaian dari dosen yang menyebut bahwa artikel ilmiah tim kami menggunakan referensi palsu. Beliau bahkan memperingatkan agar kami lebih selektif dan tidak asal mencatut sumber dari internet. Mendengar itu, hatiku terasa getir.  Bagaimanapun, aku adalah seorang guru yang sangat akrab dengan dunia literasi. Malam sebelum dokumen itu diunggah ke Google Classroom, aku sendiri yang memeriksa dan menyuntingnya dengan sangat teliti. Kalimat demi kalimat kuperiksa secara saksama demi memastikan kelayakannya sebelum dib...

Hasil pembelajaran komik digital

Gambar
 

Berdamai Dengan Kegagalan Hidup Sepenggal Kisah Tentang Kehidupan yang Tak Sempurna

Gambar
Sering kali kita merasa sudah menggenggam iman, tapi saat badai datang, pegangan itu terasa goyah. Tulisan ini adalah sebuah refleksi jujur tentang perjalanan hati yang sedang belajar menyelaraskan antara lisan yang mengaku ikhlas dengan hati yang masih kerap merasa cemas. Ini adalah pengingat bahwa menjadi lemah di hadapan Allah bukanlah sebuah kehinaan, melainkan awal dari kekuatan yang sesungguhnya. Betapa hari ini saya merasa malu di hadapan Allah. Saya adalah seorang hamba yang sering mengatakan, "Ya Allah, saya ikhlas dengan garis takdir-Mu," tapi ternyata saya masih sedih dengan semua masalah yang saya hadapi. Saya merasa malu, seolah diri saya tidak percaya pada apa yang Allah ajarkan melalui takdir-Nya. Saya mendapatkan pukulan berat berkali-kali dalam hidup ini. Hati saya masih meragukan, padahal itulah awal dari masalahnya. Ketika saya sudah mengatakan yakin akan ketentuan Allah, seharusnya saya percaya tanpa ragu sedikit pun bahwa apa yang terjadi hari ini membuat...

Seni Berdamai dengan Luka: Saat Ikhlas Menjadi Kekuatan

Gambar
Setiap orang pasti pernah merasakan patah. Tidak terkecuali saya. Namun, di tengah remuknya perasaan, saya teringat akan nasihat Ustadz Aman Wicahyo tentang bagaimana seorang beriman mengaplikasikan keimanannya: melalui tutur kata yang tenang tanpa amarah. Seorang hamba yang hatinya bersih dan menyakini bahwa garis takdir Allah adalah yang terbaik, akan mampu memaafkan keadaan.  Berdamai dengan hati yang lapang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebagai seorang pendidik sekaligus mahasiswa, saya pun masih terus belajar memupuk jiwa menjadi pemaaf. Saya berusaha ikhlas dengan segala kondisi yang dijalani, meski jujur saja, proses itu sangatlah berat. Menerima Ketidaksempurnaan Diri Saya bisa menikmati udara hari ini karena saya memilih untuk menerima. Di titik ini, saya telah sampai pada tahap pasrah, tapi bukan berarti menutup diri. Saya ingin jujur pada diri sendiri bahwa saya memiliki kekurangan dan kelemahan. Sebagai hamba Allah, saya tidak ingin terlihat sempurna....

Asesmen Projek Membuat poster Pelajaran Bahasa Indonesia

Gambar
Rubrik Penilaian Proyek Poster (Kelas 9 SMP) Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia Topik: Membuat Poster Nama Siswa/Kelompok: 1 No Aspek Penilaian Kriteria Penilaian Skor (1-4) Bobot Nilai Akhir 1 Kesesuaian Isi Isi poster sesuai dengan tema yang ditentukan dan memuat pesan yang jelas. 30% 2 Komposisi & Tata Letak Penempatan unsur visual (gambar) dan teks proporsional, seimbang, dan mudah dibaca. 25% 3 Kreativitas & Estetika Penggunaan warna yang menarik, orisinalitas ide, dan keunikan visual. 25% 4 Kualitas Kebahasaan Kalimat bersifat persuasif (mengajak), singkat, padat, dan tidak ada kesalahan ejaan. 20% Total 100% Refleksi asesmen formatif praktek membuat poster  Secara keseluruhan poster yang dibuat sudah bagus hanya saja kalian harus lebih kreatif dan menggunakan pilihan elemen dari Canva yang menarik. Kalian juga bisa memilih pemakaian font yang sesuai dan pemilihan warna yang mencolok. Berikut ini hasil asesmen materi pe...

Sepenggal Rasa yang Tertinggal

Gambar
  Kamu bertanya tentang malamku yang sunyi Tentang garis waktu yang tak bisa diputar kembali  Tentang jiwa yang terseok-seok merapal doa Kala senja datang. Ini cerita yang tak lekang oleh waktu  Tentang aku, kamu dan pilu Tentang rembulan yang merindu  Tentang pucuk daun yang bergoyang diterpa angin  Ini cerita tentang hilangnya waktu  Di setiap detiknya selalu ada tanya Kapan kamu datang membawa sepercik harapan Kapan kamu membawa segenggam senyum Andai tak ada lagi bercak merah yang tertinggal  Tentang kamu, Tentang luka yang kau toreh Mungkin tidak sedalam ini perihnya, Andai luka bisa hilang diterpa badai, Mungkin tidak sedalam ini dinginnya air hujan  Dia mengguyur jiwa yang lara Malam tak seperti biasanya, Dia sendiri memeluk sunyi, Menyanyikan air mata. Depok, akhir April 2026