Seni Berdamai dengan Luka: Saat Ikhlas Menjadi Kekuatan
Setiap orang pasti pernah merasakan patah. Tidak terkecuali saya. Namun, di tengah remuknya perasaan, saya teringat akan nasihat Ustadz Aman Wicahyo tentang bagaimana seorang beriman mengaplikasikan keimanannya: melalui tutur kata yang tenang tanpa amarah.
Seorang hamba yang hatinya bersih dan menyakini bahwa garis takdir Allah adalah yang terbaik, akan mampu memaafkan keadaan.
Berdamai dengan hati yang lapang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebagai seorang pendidik sekaligus mahasiswa, saya pun masih terus belajar memupuk jiwa menjadi pemaaf. Saya berusaha ikhlas dengan segala kondisi yang dijalani, meski jujur saja, proses itu sangatlah berat.
Menerima Ketidaksempurnaan Diri
Saya bisa menikmati udara hari ini karena saya memilih untuk menerima. Di titik ini, saya telah sampai pada tahap pasrah, tapi bukan berarti menutup diri. Saya ingin jujur pada diri sendiri bahwa saya memiliki kekurangan dan kelemahan.
Sebagai hamba Allah, saya tidak ingin terlihat sempurna. Saya menyadari ada sisi kekurangan dalam diri, tapi hal itu tidak menghambat saya untuk tetap tampil menjadi diri sendiri. Saya belajar untuk tidak terlalu memusingkan penilaian orang lain.
Hal terpenting bagi saya adalah keberanian untuk mengakui kesalahan; jika perilaku saya keliru, saya akan meminta maaf karena kita hanyalah manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan.
Bangkit dari Rasa Sakit
Bohong jika saya katakan saya tidak tersakiti saat mendengar kata-kata kasar atau perilaku orang lain yang tidak menghargai diri saya. Namun, saya memilih bersabar dan suatu saat saya akan membuktikan bahwa luka ini bisa menjadi pelajaran berharga. Saya akan memperbaiki segalanya dan belajar dari setiap kesalahan yang ada.
Hari ini, saya ingin mengatakan kepada pembaca, saat kamu gagal, jangan lupa untuk bangkit lagi. Jangan pernah menyerah karena masih ada waktu dan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kita tidak perlu menyesali keadaan secara berlebihan, tapi usahakanlah yang terbaik yang kalian bisa demi kesuksesan di masa depan.
Saya tidak akan menyerah. Saya teringat ibu saya yang telah lama pergi. Saya tidak mau trauma datang lagi. Saya ingin ibu saya di alam sana bangga melihat putrinya kuat menghadapi persoalan dan saya tidak akan lupa bagaimana ibu saya adalah alasan saya untuk mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa magister pendidikan teknologi.
Sebagai penguat hati dalam menghadapi takdir dan belajar memaafkan, Allah SWT berfirman:
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
"Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (QS. Asy-Syura: 43). Ayat ini jadi penguat agar kita belajar memaafkan. Mari ikhlaskan semua hal yang menghambat kesuksesan. Hari ini adalah proses perjuangan jangan gentar meskipun kamu hampir menyerah.
"Kegagalan hanyalah jeda, bukan akhir cerita. Saat kamu jatuh dan merasa patah, jangan lupa untuk bangkit lagi; karena masa depan hanya milik mereka yang berani mencoba kembali."
Menjadi diri sendiri jadi apa adanya jauh lebih baik daripada berpura-pura sempurna. Saat kita berani jujur dengan rasa sakit dan kegagalan, di sanalah langkah pertama menuju kesuksesan dimulai. Mari berhenti meratapi masa lalu, dan mulailah melangkah dengan keyakinan bahwa takdir Allah tidak pernah salah dalam memilih takdir.
Tetaplah berbuat baik, meski dunia terkadang kejam karena kedamaian yang sesungguhnya ada pada hati yang mampu melepaskan dan kaki yang selalu mau melangkah kembali meski pernah terjatuh.
Terima kasih telah membaca.
Sumber foto by pinterest

Komentar
Posting Komentar