Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Di Balik Layar yang Redup, Ada Jiwa yang Tetap Menyala

Gambar
  Waktu seolah melambat saat sebuah pesan masuk di grup utama mahasiswa. Di sana, tertulis kalimat-kalimat tajam tanpa filter yang seketika meruntuhkan perasaan. Tuduhan tak berdasar itu nyaris melempar jiwa ini ke dalam penyesalan yang tak berkesudahan.  Pikiran mendadak buntu, dipenuhi rasa gagal, seakan dunia berhenti berputar pada detik itu juga. Butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk sekadar mencerna dan menerima kenyataan pahit tersebut. Pemicunya adalah penilaian dari dosen yang menyebut bahwa artikel ilmiah tim kami menggunakan referensi palsu. Beliau bahkan memperingatkan agar kami lebih selektif dan tidak asal mencatut sumber dari internet. Mendengar itu, hatiku terasa getir.  Bagaimanapun, aku adalah seorang guru yang sangat akrab dengan dunia literasi. Malam sebelum dokumen itu diunggah ke Google Classroom, aku sendiri yang memeriksa dan menyuntingnya dengan sangat teliti. Kalimat demi kalimat kuperiksa secara saksama demi memastikan kelayakannya sebelum dib...

Hasil pembelajaran komik digital

Gambar
 

Berdamai Dengan Kegagalan Hidup Sepenggal Kisah Tentang Kehidupan yang Tak Sempurna

Gambar
Sering kali kita merasa sudah menggenggam iman, tapi saat badai datang, pegangan itu terasa goyah. Tulisan ini adalah sebuah refleksi jujur tentang perjalanan hati yang sedang belajar menyelaraskan antara lisan yang mengaku ikhlas dengan hati yang masih kerap merasa cemas. Ini adalah pengingat bahwa menjadi lemah di hadapan Allah bukanlah sebuah kehinaan, melainkan awal dari kekuatan yang sesungguhnya. Betapa hari ini saya merasa malu di hadapan Allah. Saya adalah seorang hamba yang sering mengatakan, "Ya Allah, saya ikhlas dengan garis takdir-Mu," tapi ternyata saya masih sedih dengan semua masalah yang saya hadapi. Saya merasa malu, seolah diri saya tidak percaya pada apa yang Allah ajarkan melalui takdir-Nya. Saya mendapatkan pukulan berat berkali-kali dalam hidup ini. Hati saya masih meragukan, padahal itulah awal dari masalahnya. Ketika saya sudah mengatakan yakin akan ketentuan Allah, seharusnya saya percaya tanpa ragu sedikit pun bahwa apa yang terjadi hari ini membuat...

Seni Berdamai dengan Luka: Saat Ikhlas Menjadi Kekuatan

Gambar
Setiap orang pasti pernah merasakan patah. Tidak terkecuali saya. Namun, di tengah remuknya perasaan, saya teringat akan nasihat Ustadz Aman Wicahyo tentang bagaimana seorang beriman mengaplikasikan keimanannya: melalui tutur kata yang tenang tanpa amarah. Seorang hamba yang hatinya bersih dan menyakini bahwa garis takdir Allah adalah yang terbaik, akan mampu memaafkan keadaan.  Berdamai dengan hati yang lapang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebagai seorang pendidik sekaligus mahasiswa, saya pun masih terus belajar memupuk jiwa menjadi pemaaf. Saya berusaha ikhlas dengan segala kondisi yang dijalani, meski jujur saja, proses itu sangatlah berat. Menerima Ketidaksempurnaan Diri Saya bisa menikmati udara hari ini karena saya memilih untuk menerima. Di titik ini, saya telah sampai pada tahap pasrah, tapi bukan berarti menutup diri. Saya ingin jujur pada diri sendiri bahwa saya memiliki kekurangan dan kelemahan. Sebagai hamba Allah, saya tidak ingin terlihat sempurna....