Berdamai Dengan Kegagalan Hidup Sepenggal Kisah Tentang Kehidupan yang Tak Sempurna



Sering kali kita merasa sudah menggenggam iman, tapi saat badai datang, pegangan itu terasa goyah. Tulisan ini adalah sebuah refleksi jujur tentang perjalanan hati yang sedang belajar menyelaraskan antara lisan yang mengaku ikhlas dengan hati yang masih kerap merasa cemas. Ini adalah pengingat bahwa menjadi lemah di hadapan Allah bukanlah sebuah kehinaan, melainkan awal dari kekuatan yang sesungguhnya.

Betapa hari ini saya merasa malu di hadapan Allah. Saya adalah seorang hamba yang sering mengatakan, "Ya Allah, saya ikhlas dengan garis takdir-Mu," tapi ternyata saya masih sedih dengan semua masalah yang saya hadapi. Saya merasa malu, seolah diri saya tidak percaya pada apa yang Allah ajarkan melalui takdir-Nya. Saya mendapatkan pukulan berat berkali-kali dalam hidup ini. Hati saya masih meragukan, padahal itulah awal dari masalahnya.

Ketika saya sudah mengatakan yakin akan ketentuan Allah, seharusnya saya percaya tanpa ragu sedikit pun bahwa apa yang terjadi hari ini membuat saya sadar bahwa diri saya ini tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Saya sangat kecil, mungkin hanyalah buih. Saya tidak punya motivasi dan hampir patah ketika menghadapi kegagalan. Permasalahan hidup datang bagai pukulan yang tak bisa saya tahan.

Saya tidak tahu bagaimana harus bertahan saat menghadapi kenyataan bahwa saya hampir menyerah dengan keadaan. Saya merasa bahwa hidup saya tidak ada artinya lagi. Terutama ketika saya punya mimpi ingin menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan hidup layak. Saya pikir itu jalan satu-satunya agar keluar dari sangkar kemiskinan, tapi ternyata saya salah.

Saya sadar hari ini, ketika orang-orang keluar dari masalah, saya masih menikmati masalah itu padahal usia saya tidak lagi muda. Saya selalu mengukur penderitaan dan menyalahkan diri sendiri atas kegagalan serta ketidakmampuan saya sebagai manusia, padahal seharusnya tidak begitu. Dalam hal ini, kesalahan saya adalah tidak menjadikan kegagalan sebagai guru dan belum bisa berdamai dengannya.

Ketika saya merasa kalah oleh keadaan, bahkan ketika jiwa saya sudah lelah, kemudian saya bertanya: “Ya Allah, kenapa saya belum berhasil, padahal saya telah berjuang habis-habisan?” dan hati kecil saya selalu ragu. Kemudian saya merasa tidak tahu bahwa selalu ada campur tangan Allah dalam setiap kejadian yang saya alami.

Bagi orang-orang yang sedang menonton saya dan membenci saya, mereka pasti tertawa di saat saya menangis. Sejujurnya, siapa orang yang mau hidup menderita? Saya yakin tidak ada. Namun, di sini saya ingin menggarisbawahi bahwa jangan pernah lisan kita bicara bahwa kita beriman, padahal kita belum sepenuhnya menyerahkan urusan dunia kepada Allah.

Allah tidak tidur. Dia Maha Adil. Semua telah diatur dengan baik, kenapa sebagai manusia saya masih meragukannya? Saya pun menangis dan memohon ampun kepada Allah di sepertiga malam ketika saya sebagai hamba masih mengeluh dan tidak mensyukuri apa yang sudah Allah berikan selama ini. Bahkan, saya malah menyalahkan diri sendiri atas kegagalan hidup yang saya alami.

Siapa yang tidak ingin bangkit dari masalah kemiskinan? Saya rasa semua orang sedang berjuang, hanya saja takaran perjuangannya berbeda. Jadi, masih meragukan Allah adalah hal yang salah.

Kegagalan bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan kita, melainkan cara-Nya untuk membelokkan langkah kita menuju jalan yang lebih baik yang belum kita pahami. Seringkali kita terpaku pada satu pintu yang tertutup (seperti impian menjadi PNS), hingga kita tidak melihat pintu-pintu lain yang sebenarnya sudah Allah bukakan lebar-lebar untuk kita.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

"Iman bukan berarti hidup tanpa masalah, tapi iman adalah kepastian bahwa Tuhan tidak akan membiarkanmu menghadapi masalah itu sendirian."

Menyerahkan urusan kepada Allah (Tawakal) adalah sebuah kerja keras hati. Ia memerlukan latihan terus-menerus untuk menyelaraskan lisan dan rasa. Kegagalan bukan untuk diratapi, melainkan untuk didekap sebagai bagian dari proses pendewasaan jiwa. Selama napas masih ada, kesempatan untuk bangkit akan selalu terbuka.

Hikmah dari kegagalan adalah untuk meruntuhkan kesombongan diri agar kita menyadari bahwa kita hanyalah hamba yang fakir di hadapan Sang Pencipta. Jangan biarkan tawa orang lain menghentikan langkahmu, karena standar kesuksesanmu bukan terletak pada penilaian manusia, melainkan pada sejauh mana kamu mampu bersabar dan bersyukur dalam ketetapan-Nya.

Teruslah melangkah, karena takdir Allah tidak pernah salah alamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review film When gives you tangerines

Jangan Melakukan Tindak KDRT Psikis Bila Tidak Mau Kena Sanksi Hukum

Berdamai dengan Masa lalu