Cangkang Kecil untuk Bumi


Oleh Chelsea Awwaliya 

Kisah ini bermula di sebuah pulau lautan kecil yang masih aktif. Di lautan dangkal itu, hiduplah seekor kura-kura kecil bernama Kiko. Kiko adalah kura-kura kecil dengan mata bulat dan memiliki cangkang yang masih lunak. Kiko sangat suka mengumpulkan benda-benda yang mengkilap; ia mengumpulkannya sebagai mainan.

Kiko memiliki dua teman yang suka bermain dengannya, namanya adalah Pipi dan Mimo. Pipi adalah seekor ikan kecil, sementara Mimo adalah seekor kuda laut. Mereka bertiga sangat suka bermain di lautan yang dangkal, seperti bermain kejar-kejaran sambil tertawa. Terkadang, mereka mengajak ikan-ikan kecil lainnya untuk bermain bersama.

Suatu hari, Kiko, Pipi, dan Mimo sedang berenang dan bermain bersama di lautan yang dangkal.

"Menyenangkan, ya, di sini! Ayo kita main lagi!" ucap Kiko dengan bersemangat.

Setelah asyik bermain, tak terasa langit mulai gelap. Suasana di laut mulai sepi, hanya ada beberapa ikan saja dan mereka bertiga. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang.

Keesokan paginya, saat Kiko sedang berenang, ia menemukan plastik berwarna. Kiko mengira bahwa sampah plastik itu adalah seekor ubur-ubur kecil yang akan menjadi santapannya.

"Wah, ada ubur-ubur!" kata Kiko sambil berseru.

Saat Kiko ingin memakan "ubur-ubur" tersebut, tiba-tiba seekor penyu tua datang menghentikannya. Penyu itu bernama Nara. Nara adalah seekor penyu besar yang sudah cukup dekat dengan Kiko.

"Jangan memakan itu, Kiko! Itu adalah sampah plastik milik manusia!" kata penyu tua itu.

"Sampah plastik? Tapi mengapa manusia membuangnya ke sini? Bukankah seharusnya mereka membuangnya ke tempat sampah?" ucap Kiko dengan khawatir dan penasaran.

"Karena mereka lupa menjaga bumi. Hanya manusia tidak bertanggung jawab yang seperti itu," ucap Nara kepada Kiko.

Nara mengingat bagaimana dengan mudahnya manusia membuang sampah ke laut dan mencemari ekosistem. Tanpa sadar, mereka sama saja membunuh kehidupan yang ada di dalam laut secara perlahan.

Beberapa hari kemudian, Kiko menyadari bahwa ada banyak sampah yang mulai menyebar ke laut. Ada sampah plastik, sedotan, kaleng, dan banyak lagi. Kiko melihat terumbu karang yang dulunya cantik dan berwarna-warni, kini tertutupi oleh sampah yang kotor. Bahkan, ada beberapa ikan kecil yang terjebak di sampah itu. Dada Kiko terasa sesak saat melihatnya. Hatinya terasa sakit melihat lautan yang dulunya indah, kini tampak sangat kotor.

"Aku ingin membantu menyelesaikan semua kekacauan ini..." kata Kiko dengan nada lirih pada dirinya sendiri.

Di suatu pagi yang cerah, Kiko berkumpul dengan teman-temannya, Pipi dan Mimo. Mereka bertiga memiliki niat untuk membersihkan kekacauan yang dilakukan oleh manusia. Satu per satu, mereka mulai mendorong sampah-sampah itu ke tepi pantai. Mereka mengumpulkan sampah-sampah itu ke satu tempat. Dengan usaha dan kerja keras, akhirnya mereka bertiga berhasil membuat laut tampak lebih bersih dari sampah yang berserakan.

"Tak disangka, ya, ternyata tubuh kecil kita bisa melakukan semua ini!" Kiko berbicara sambil sedikit tertawa bangga atas usaha mereka.

"Kau benar, Kiko! Lagipula lautan ini milik kita, tidak seharusnya manusia mengotorinya!" jawab Mimo.

"Tapi, jika manusia terus membuang sampah di sini, mungkin kita akan kehilangan tempat tinggal..." timpal Pipi.

Mimo dan Kiko menghela napas secara bersamaan. Perkataan Pipi memang benar; mereka bisa saja kehilangan tempat tinggal karena manusia. Kiko sangat ingin manusia melihat lautan sama seperti cara Kiko melihatnya, yaitu indah dan bersih.

Namun, kebersihan laut itu tak berlangsung lama. Sampah-sampah mulai kembali bermunculan, bahkan terlihat lebih banyak dari sebelumnya. Banyak ikan yang mati karena terjebak oleh sampah, beberapa juga mati karena memakan sampah yang mereka kira adalah makanan. Hati Kiko merasa hancur dan sedih. Ia tak bisa membayangkan jika laut cantik tempat tinggalnya akan menjadi lautan yang menyeramkan. Hal itu membuat Kiko kehilangan banyak harapan.

Suatu hari, datanglah sekelompok anak manusia ke pantai untuk bermain. Saat pagi harinya, matahari terasa sangat panas; pantulan cahaya matahari membuat laut tampak seperti kaca. Burung-burung mulai berdatangan untuk memangsa ikan di laut, memang sudah hukum alam.

Di saat itu juga, ada sekelompok anak laki-laki dan perempuan yang datang ke pantai untuk bermain. Tiba-tiba, salah satu dari mereka melihat ada tumpukan sampah yang dikumpulkan oleh Kiko dan teman-temannya di tepi pantai. Selain itu, mereka juga melihat beberapa sampah yang mengapung di laut.

"Ayo kita bersihkan sampah-sampah itu!" kata salah satu anak bernama Vina.

Teman-temannya pun langsung menyetujuinya. Mereka mulai mencari plastik besar untuk mengumpulkan sampah itu. Kemudian, mereka memungutinya satu per satu. Sebelum kembali pulang, mereka juga membuat tulisan di sebuah papan yang cukup besar menggunakan spidol. Papan itu bertuliskan: "Jangan membuang sampah di sini! Lautan adalah rumah kita bersama." Setelah itu, mereka menancapkannya di atas pasir putih yang halus.

Sebelum mereka pulang, anak-anak itu melihat seorang perempuan yang membuang kaleng soda di atas pasir. Vina dan teman-temannya saling menoleh sebelum mendekati perempuan itu untuk menegurnya.

"Permisi, bisakah kamu membuang sampah milikmu ke tempat sampah?" ucap Vina dengan sopan.

"Ah... maaf, aku akan membuangnya di tempat yang seharusnya," ucap perempuan bernama Lara itu. Setelah itu, Lara mengambil kembali sampah miliknya dan segera membuangnya ke tempat sampah.

Dari dalam air, Kiko melihat semuanya. Ia merasa senang karena akhirnya ada manusia yang peduli dengan kondisi laut.

"Terima kasih, manusia!" kata Kiko dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.

Sejak hari itu, kondisi laut mulai membaik. Sudah jarang orang yang membuang sampah mereka ke laut. Terumbu karang mulai kembali berwarna, dan ikan-ikan kini sudah tidak takut lagi untuk berenang karena tidak ada sampah yang menyakiti mereka. Kiko kini sudah bisa berenang bebas dan bermain tanpa harus merasa takut atau cemas lagi.

###

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehat dan Bugar di Usia Senja

Menjemput Senyum di Balik Luka Masa Lalu

Nilai Nol di Rapor Cermin Kemalasan Guru?