Dilema Instruktur Muslimah


 

"Bergerak menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar merawat anugerah raga. Namun, ketika garis antara tuntutan profesional dan norma spiritual bersinggungan, seorang pendidik dituntut untuk berjalan di atas kompas nilai yang lurus."

Bagi seorang ustazah sekaligus pengajar tahsin, melakukan gerakan senam yang dinamis—atau yang sering diistilahkan dengan "jingkrak-jingkrak"—adalah hal yang tabu untuk dilakukan, apalagi jika dilakukan dalam sesi latihan bersama antara laki-laki dan perempuan. Namun, dalam pelaksanaan olahraga tersebut, terdapat adab dan aturan syariat yang harus dijaga, yakni posisi barisan di mana laki-laki berada di depan, sedangkan perempuan berada di belakang.

Hal ini tentu memiliki tujuan mulia: diharapkan kaum laki-laki tetap menjadi pemimpin dan penglihatannya tidak terfokus pada perempuan. Namun, untuk lebih meminimalisir hal-hal yang kurang berkenan, sebaiknya kostum yang digunakan oleh instruktur perempuan benar-benar memenuhi standar syar'i, yakni memilih kerudung yang menjuntai menutupi dada serta melakukan gerakan kardio yang santun.

Kendati demikian, masih ada yang berpendapat bahwa gerakan senam yang terlalu aktif termasuk hal yang kurang layak karena dikhawatirkan dapat mengundang pandangan negatif dari sebagian masyarakat.

Bagaimana jika seorang instruktur berprofesi ganda, juga sebagai seorang pengajar tahsin? Hal ini tentu dapat memengaruhi citra dirinya di hadapan khalayak ramai. Pertama, lokasi tempat senam sebaiknya dipilih di tempat yang terbuka atau umum. Kedua, sebagian orang menganggap tidak pantas bila seorang ustazah melakukan gerakan kardio dengan iringan musik yang mengundang goyangan, terlebih jika lirik lagunya dinilai kurang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Padahal, bila seorang instruktur senam senantiasa mengikuti rambu-rambu yang ada di komunitas olahraga, tentu hal-hal negatif tersebut tidak akan terjadi. Bagaimana cara mengubah pandangan atau pola pikir masyarakat? Ya, tentu tidak mudah, karena setiap kepala memiliki pemikiran yang beragam.

Bagaimana jika bergerak itu termasuk perbuatan dosa? Saya yakin semua orang tidak akan ada yang mau berolahraga jika dibilang termasuk perbuatan dosa. Setiap ucapan dari lisan orang-orang yang menyudutkan memang sering kali menyakitkan, tetapi kita harus cerdas dalam menanggapi masalah ini. Janganlah bersikap kasar atau merundung (membully) instruktur yang masih bersemangat belajar. 

Bagaimanapun, seorang instruktur juga manusia; ia akan menjadi lebih baik bila diarahkan, dibimbing dengan ilmu tentang bagaimana menjaga diri dari perbuatan dosa, serta memahami rambu-rambu yang ada agar ke depannya tidak gampang dicap sebagai pendosa.

Tulisan ini hadir untuk membuka wawasan kita bersama—khususnya bagi para instruktur—betapa tidak mudahnya memilih sebuah profesi dan menjalankannya secara seimbang. Di satu sisi, musik bertempo cepat yang sering didengar dikhawatirkan dapat melalaikan hati, sementara di sisi lain, musik senam kardio dengan ritme yang cepat sangat dibutuhkan untuk membakar semangat bergerak.

Gelombang suara yang merangsang indra pendengaran ini terkadang membuat seorang pengajar Al-Qur'an harus berjuang ekstra agar hafalannya tetap terjaga di tengah bisingnya ritme dunia luar.

Ayat Al-Qur'an Relevan:

$$ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ $$

"Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan itu ejekan. Mereka itulah yang akan memperoleh azab yang menghinakan." (QS. Luqman: 6)

Profesi ganda sebagai seorang pendidik atau pembelajar Al-Qur'an sekaligus instruktur olahraga bukanlah halangan untuk tetap menjaga kehormatan diri. Kuncinya terletak pada manajemen niat, penjagaan batasan syariat (seperti menutup aurat dengan sempurna, menjaga jarak, dan memilih gerakan yang santun), serta kebijaksanaan dalam menyikapi pandangan masyarakat. Dengan ilmu dan rambu-rambu yang tepat, kesehatan jasmani dapat diraih tanpa harus mengorbankan kemuliaan rohani.

"Jangan biarkan suara sumbang dari luar menghentikan langkah kebaikanmu. Tugas kita bukan memuaskan semua orang, melainkan menjaga ridha Allah di setiap profesi yang kita jalani."

Wallahu alam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjemput Senyum di Balik Luka Masa Lalu

Nilai Nol di Rapor Cermin Kemalasan Guru?

Tips Menulis Buku Self Improvement yang Inspiratif