Menembus Batas Prestise Meniti Rida Ilahi
Di era digital ini sebuah pencapaian dan pengakuan publik, terselip sebuah renungan yang mendalam. Tulisan ini adalah sebuah catatan hati tentang bagaimana meluruskan niat, meredam ambisi semu, dan mengalihkan orientasi hidup agar tidak sekadar mencari nama di pandangan manusia.
"Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan (keperluan)nya."
(QS. At-Talaq: 2–3)
Saat ini saya sering kali merasa heran dengan fenomena yang marak terjadi. Begitu banyak orang berlomba-lomba mengejar prestise. Setelah saya mempelajari makna kata prestise lebih dalam, barulah saya memahami alasan di balik ambisi tersebut. Lembaga tempat kita bernaung, hasil prestasi, pencapaian, hingga latar belakang pendidikan sering kali dianggap sebagai instrumen ampuh untuk menaikkan prestise.
Jujur, saya pribadi saat ini belajar mengenai personal branding bukan untuk mengejar prestise semata, melainkan untuk meng-upgrade diri dan menjadi manusia pembelajar. Di sisa umur ini, saya ingin mengangkat derajat orang tua, memperbaiki keadaan, serta membawa kesejahteraan bagi keluarga. Namun, di balik semua ikhtiar itu, saya sangat menyadari bahwa apa pun yang terjadi di dunia ini sepenuhnya berada di atas kehendak Allah SWT.
Sekeras apa pun saya melangkah dan selelah apa pun saya mengejarnya, saya tahu bahwa takdir Allah adalah yang terbaik. Saya menyerahkan seluruh ikhtiar dan doa kepada-Nya karena saya ingin senantiasa berprasangka baik atas segala ketentuan-Nya. Segala hal yang ingin saya usahakan dan wujudkan tidak akan pernah terwujud tanpa rida dari Allah SWT. Oleh karena itu, saya selalu berusaha mencari keberkahan dalam hidup ini—salah satunya dengan mengabdikan diri memberikan ilmu di sebuah lembaga yang mungkin belum dikenal luas dan bahkan kurang dilirik oleh orang banyak.
Saya percaya, tidak ada satu pun kejadian di dunia ini yang luput dari kehendak Allah. Saya memaknai setiap peristiwa sebagai bentuk kepasrahan dan latihan untuk ikhlas menerima keadaan. Saya tidak merasa marah, apalagi menyalahkan keadaan, sebab hidup ini harus dijalani dengan kebahagiaan.
Saya tidak berambisi untuk dipandang hebat oleh orang lain, dianggap kaya, atau berpengaruh hanya karena memiliki lembaga terbaik di mata masyarakat. Jauh dari itu, saya ingin memiliki pengaruh dan kedudukan yang mulia di mata Allah. Saat ini, saya tidak merasa rendah di hadapan manusia, sebab saya tahu bahwa satu-satunya pandangan yang hakiki adalah pandangan Allah. Jika Allah sudah berkehendak, siapa pun pemilik jabatan tertinggi akan luntur kesombongannya.
Ibarat sebuah bangunan, lembaga yang menaungi kita bisa saja runtuh seketika karena setitik nila, tetapi kepercayaan dan ketulusan yang kita bangun dari nol tidak akan pernah hilang selamanya. Mengejar prestasi untuk kemajuan diri tetaplah suatu kebutuhan; sebagai pembelajar, kita harus senantiasa memperbarui ilmu agar tidak menjadi insan yang buta pengetahuan. Manfaatkanlah hidup ini untuk terus belajar dan menabung amal kebaikan demi tujuan akhir kita selamanya, yaitu surga illahi.
Prestise duniawi bersifat fana, mudah runtuh oleh penilaian manusia yang berubah-ubah. Kesuksesan sejati bukanlah tentang seberapa megah lembaga atau seberapa tinggi pengakuan publik yang kita miliki, melainkan seberapa besar ketulusan niat, keberkahan ikhtiar, dan rida Allah SWT yang berhasil kita raih. Dengan memposisikan diri sebagai pembelajar seumur hidup yang bertawakal penuh kepada-Nya, setiap langkah pengabdian—sekecil apa pun itu di mata dunia—akan bernilai ibadah dan mengantar kita menuju ridha illahi.

Komentar
Posting Komentar