Noktah Atap yang Retak
BAB 1: PAGI YANG TIDAK PERNAH TENANG
Pagi belum benar-benar terang, tetapi Anna sudah terbangun lebih awal dari penghuni rumah lainnya. Di dapur kecilnya, ia memotong bahan seadanya untuk menyiapkan sarapan dan merapikan kebutuhan anak-anak yang harus pergi sekolah.
Usai dapur agak rapi, Anna duduk di sudut meja makan. Ia mengambil ponsel, membuka aplikasi perbankan dan dompet digital, lalu mulai menghitung sisa dana yang tersisa di rekeningnya. Matanya menatap nanar deretan angka di layar. Tagihan kuliah anak pertama, biaya sekolah Afika dan Ilham, hingga iuran pesantren Rizki menumpuk menanti penyelesaian. Belum lagi untuk belanja dapur sehari-hari. Uang gajian mengajar Anna bulan ini sudah menipis, nyaris habis tak berbekas.
Di kamar, Andre—suaminya—masih berbaring di atas kasur dengan sarung melilit pinggang. Jemarinya sibuk mengusap layar ponsel, scrolling media sosial tanpa henti. Sesekali ia terkekeh sendirian melihat video lucu yang lewat di linimasa, seolah tak ada beban sedikit pun di kepalanya.
Anak-anak mereka yang masih SD sedang menyantap sarapan dengan lahap di meja makan. Tak lama kemudian, anak tertua mereka yang bersiap berangkat kuliah mendekati Anna. Dengan wajah bersungut-sungut dan gaya jutek, ia mengulurkan tangan.
"Bu, minta uang," mintanya tanpa basa-basi.
Anna menghela napas panjang, menatap anak sulungnya itu dengan raut lelah. "Uang yang Ibu kasih kemarin ke mana? Sudah habis lagi?"
"Ya... sudah habislah, Bu."
"Kamu harus hemat, ini sudah akhir bulan. Uang gajian Ibu mau habis," tegur Anna, mencoba menahan rasa kesal.
"Ya Ibu cari lagilah sampai dapat!" jawab sang anak santai.
Dada Anna terasa makin sesak. "Ibu harus cari ke mana lagi? Masa Ibu harus ngutang lagi? Utang Ibu saja sudah menumpuk!"
"Ya Ibu minta, dong, sama Ayah!" celetuk anak itu asal sebelum beranjak.
Kalimat itu menyentil dada Anna. Ia berpaling menatap Andre yang masih asyik memainkan ponselnya di kamar. Sang suami menyadari tatapan itu, lalu menoleh singkat.
"Kenapa lihat-lihat?" semprot Andre tiba-tiba membela anaknya. "Kan aku sudah kasih uang. Kamu saja yang boros, suka menghambur-hamburkan uang!"
"Tunggu, tunggu... uang yang mana yang Kamu maksud?" potong Anna, suaranya mulai meninggi.
"Ya itu, yang awal bulan kemarin aku kasih!"
"Oh, yang cuma sejuta itu?" Anna tertawa sumbang. "Apa Kamu tidak sadar, uang sejuta itu cuma cukup untuk jajan Lia selama tiga puluh hari? Itu belum termasuk bensin dan kuota internetnya!"
"Alah! Kamu saja yang tidak bisa mengatur duit!" sahut Andre tak mau kalah.
"Kamu tidak lihat bukti pembayaran sekolah Afika, Ilham, dan Rizki?" tegas Anna seraya menunjuk amplop-amplop tagihan di meja. "Semuanya total lebih dari satu juta! Kamu pikir uang sebanyak itu datang dari mana? Dari tuyul?!"
Andre menghembuskan napas kasar. Ia melambaikan tangan dengan wajah gusi. "Eh, jangan bikin kesal pagi-pagi! Gue mau tidur lagi. Yang penting gue sudah ngasih. Terserah lu mau cari kekurangannya di mana, gue tidak peduli!"
"Maksud Ayah apa?" suara Anna bergetar menahan emosi. "Aku harus berhenti kuliah S-2, berhenti ngaji, berhenti ikut arisan keluarga, dan Rizki harus pindah ke sekolah yang murah, begitu?"
"Pokoknya tugas lu sekarang menghemat!" tembak Andre tajam. "Jangan beli baju senam terus, itu bikin kantong tipis!"
"Terus kalau aku berhenti kegiatan, apa Abang bisa bikin aku tetap waras?" Anna menatap lurus mata suaminya.
"Maksudnya lu sekarang sudah gila?!"
"Heh, Bang, sadar! Yang bikin aku bisa bahagia dan tidak stres menghadapi hidup ini cuma senam!"
"Ngapain lu capek-capek senam?!" potong Andre dengan nada merendahkan. "Badan sudah gendut begitu, tidak ada laki-laki yang nafsu sama lu! Mending lu pergi saja dari hidup gue!"
Kata-kata itu menghantam dada Anna seperti pukulan keras. Ia terpaku sejenak. Jadi, selama ini aku hanya dianggap sebagai sumber uang? batinnya pilu.
"Oh... jadi Abang sudah tidak mau hidup sama aye?" sahut Anna dengan senyum getir.
"Bodo amat! Gue tidak peduli!" gertak Andre sambil membetulkan letak sarungnya. "Lu cari sekarang duit buat ongkos! Kalau tidak ada, lu pinjam tuh duit kas RT. Tapi ingat, lu yang kudu ganti!"
"Tidak mau!" tolak Anna tegas. "Gara-gara Abang kebiasaan meminjam uang kas RT, pas laporan tahunan dan minta dibayar, totalnya sampai jutaan! Sampai-sampai kita harus menjual mobil. Lupa?!"
"Itu kan beda cerita!" sanggah Andre cepat. "Pan lu tahu itu karena anak kita butuh biaya kuliah dan bayar ujian pesantren. Ya kalau gue tidak meminjam, ntar bayar pakai apa?"
"Sekarang gini deh, Bang," Anna mencoba melunakkan intonasi meski napasnya masih memburu. "Hidup kita ini sudah tidak kaya dulu. Jadi kita kudu bagaimana?"
"Maksudnya lu mau kita jual rumah ini?" Andre mendengkus. "Ya tidaklah! Kan ada lu. Kenapa lu tidak melamar kerja di tempat yang lebih bagus? Lagian ngapain lu buang-buang duit pakai kuliah lagi? Udahlah, lu jangan banyak gaya! Sekarang hidup kita lagi susah, lebih baik lu berhenti kuliah, berhenti senam, berhenti arisan, dan lu kudu jual itu HP!"
"Aye tidak bisa, Bang, menarik diri dari dunia yang sudah aye jalani selama ini!"
"Alah, lu memang keras kepala!" celetuk Andre ketus. "Tugas lu itu mencari duit keluarga. Lu kan masih punya tenaga, lah gue? Kalau gue kecapekan ntar gue pilek, di luar banyak debu sekarang. Lagian gue malas ke tempat kerja, ntar yang ada gue dimaki-maki sama Bos gara-gara numpang Wi-Fi buat main HP sama minta jatah makan siang."
Anna menggelengkan kepala tak percaya. "Mikir apa sih, Bang? Kita lagi susah begini, Abang malah marah dan tidak bertanggung jawab sama nasib keluarga!"
"Eh, itu bukan urusan gue!" tukas Andre dingin. "Kalau hari ini lu gue ceraikan, gue bisa cari janda kaya yang bhenol dan mau memberi gue makan! Tidak kayak lu!"
"Astagfirullah, Bang... sadarlah! Usia Abang itu sudah lima puluh lima tahun!"
"Eh, jangan salah! Biar begini-begini gue masih laku. Gue bisa melayani dua orang sekaligus di atas ranjang!" ejek Andre penuh kesombongan.
"Bego lu, Bang!" teriak Anna meledak, tak sanggup lagi membendung sakit hatinya. "Mending dulu gue kasih racun sebelum kita punya anak!"
"Apa lu bilang?!" Andre melotot. "Jadi lu pengin gue mati?! Enak saja lu!"
BRAKKK!
Andre yang makin geram meraih panci di atas meja lalu melemparnya kuat-kuat ke arah dinding. Bunyi dentangan keras itu mengejutkan seluruh isi rumah. Anak-anak yang sedang makan langsung tersentak ketakutan dan spontan berlarian keluar pintu rumah.
Di dalam ruangan yang mendadak hening, Anna terduduk di kursi. Tangannya gemetar hebat. Ia tidak menangis, namun matanya menatap kosong ke lantai. Kalau begini terus, siapa yang akan hancur lebih dulu? Aku atau rumah ini?
Bersambung.

Komentar
Posting Komentar