Perahu-Perahu Yang Tersesat


 Perahu-Perahu Yang Tersesat

Oleh Chelsea Awwaliya 

"Untuk tugas minggu depan, kalian harus membuat cerpen yang mengangkat lokalitas daerah sekitar kalian," kata Bu Rani sambil menulis di papan tulis. Sena menghela napas, dia merasa bingung harus menulis tentang apa. Baginya, daerah sekitar rumah terasa biasa saja dan tidak ada yang menarik.

***

Sepulang sekolah, Sena masih memikirkan tugas itu. Saat melewati persimpangan. dia melihat papan bertuliskan Setu Rawa Besar. Sena pernah mendengar tempat itu dari temannya dan Sena memutuskan untuk datang ke sana keesokan harinya. Sena pun akhirnya kembali berjalan sambil memikirkan Setu Rawa Besar.

***

Sore berikutnya, Sena tiba di Setu Rawa Besar dengan membawa buku catatan dan ponselnya. Dari kejauhan, permukaan air terlihat berkilauan diterpa cahaya matahari. Namun, semakin dekat dia berjalan, hidungnya justru mencium aroma yang tidak sedap.

Sena melihat ke sekeliling. Ada bungkus makanan, botol plastik, dan gelas bekas berserakan di antara rerumputan, sebagian bahkan mengambang di permukaan air. keindahan Setu itu seperti wajah yang tertutup noda, perlahan kehilangan keindahannya karena ulah manusia. 

"Sayang banget," gumam Sena. Dia membungkuk mengambil sebuah botol plastik. Awalnya Sena hanya berniat membersihkan satu sampah, tetapi ketika melihat sampah lainnya, tangannya kembali bergerak. Satu botol berubah menjadi dua, lalu tiga. keringat mulai membasahi dahinya, tetapi Serena tetap melanjutkannya. 

ketika Serena sedang memungut sampah, ada seorang anak laki-laki yang menghampirinya. "Kak, lagi ngapain?" tanyanya seolah Pernasaran. "Bersihin sampah," jawab Serena Sambil memasukkan botol ke dalam kantong plastik. Anak itu melihat sekeliling, memandang Sampah yang berhamburan. "Ternyata banyak banget, ya!" Sena mengangguk. "Makannya, kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?"

Anak itu terdiam sebentar mendengar ucapan Sena, lalu ikut membungkuk mengambil sebuah gelas plastik di dekat kakinya. Sena tersenyum melihatnya dan tak lama kemudian ada beberapa anak lain yang ikut membantu. Mereka memungut sampah yang terselip di antara rumput dan memasukkannya ke dalam kantong.

Ada yang membantu sambil memakan cilok, tangannya bergantian antara mengambil sampah dan menusuk cilok dengan tusuk bambu. Sesekali mereka saling menunjuk ketika menemukan sampah yang sulit diambil, lalu tertawa setelah berhasil menariknya dari sela-sela rumput. Suasana yang awalnya sepi perlahan dipenuhi suara langkah kaki, obrolan, dan tawa kecil mereka.

Salu per satu sampah mulai berkurang, tepian Setu yang sebelumnya terlihat berantakan perlahan kembali menunjukkan warna hijaunya. Permukaan air laut masih belum sepenuhnya bersih, tetapi setidaknya tidak sebanyak sebelumnya. Angin sore berembus pelan, membuat daun-daun di sekitar mereka bergoyang.

Matahari sudah mulai tenggelam ketika Sena duduk disebuah bangku. Dia membuka buku catatannya dan menatap halaman kosong yang sejak kemarin membuatnya pusing. Sekarang, Serena tahu apa yang harus dia tulis dilembaran kosong itu. 

Sena menulis tentang Setu Rawa Besar, tentang air yang tercemar, sampah yang ditinggalkan, dan orang-orang yang memilih untuk membersihkannya. Serena menulis bahwa alam tidak bisa berbicara seperti manusia, tetapi perubahan kecil di sekitarnya terasa seperti sebuah pesan. Sena menatap permukaan air sekali lagi. Cahaya Jingga matahari memantul diatasnya seperti pecahan kaca. Untuk Sesaat, Setu itu terlihat Indah kembali.

Sena tersenyum dan menutup bukunya. Dia akhirnya mengerti bahwa cerita tidak selalu harus berasal dari tempat yang jauh atau kejadian yang besar. Serena berdiri dan memasukkan bukunya kedalam tas. Sebelum pulang, Sena menoleh sekali lagi pada Setu Rawa Besar. Airnya masih menyimpan luka dan mungkin suatu hari manusia akan kambali melukainya lagi. Namun, sore itu beberapa orang telah mencoba menyembuhkannya.

###

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehat dan Bugar di Usia Senja

Menjemput Senyum di Balik Luka Masa Lalu

Nilai Nol di Rapor Cermin Kemalasan Guru?