Petualangan Pingo Surili Penjaga Alam


Pendongeng: Helza Nourida 

Di jantung hutan Jawa Barat, kawasan Gunung Halimun Salak yang hijau dan rimbun, hiduplah seekor Surili bernama Pingo. Teman-teman, tahukah kalian ciri khas Pingo? Ya, rambutnya berwarna abu-abu kebiruan yang cantik dengan dada berwarna putih bersih, serta ekornya yang panjang menjuntai indah.

Lengan dan kakinya sangat kuat untuk melompat lincah dari satu dahan ke dahan lain. Pingo memiliki teman baik bernama Abel. Pingo adalah Surili yang cerdik. Ia memanjat pohon, lalu memetik beberapa lembar daun lebar untuk membungkus tangan dan kaki mereka agar tidak panas ketika menyentuh aspal.

Dia juga memiliki kebiasaan unik. Jika perutnya terasa kenyang, ia selalu berpegangan pada dahan sambil menggoyangkan badannya yang ramping dan bernyanyi dengan merdu. Ia bersenandung. Namun, hari ini hutan Halimun terasa panas.

Pohon-pohon besar telah ditebang oleh manusia. Pingo hanya bisa termenung. Matanya redup memandang batang pohon kesayangannya yang tumbang. Dengan suara bergetar menahan tangis, ia mulai bersenandung:

"Duhai alam, duhai alam hutan gersang" 

"Hati sedih, melihat pohon yang tumbang" 

"Rumah kami, kini hilang tak ada lagi" 

"Ke manakah, kami harus bermigrasi" 

Saat sedang bernyanyi sambil merenung, tiba-tiba suara Abel membuyarkan Pingo.

"Krucuk. Krucuk. Pingo... aku lapar..." keluh Abel sambil merengek.

"Ssttt! Jangan ke sana, Abel! Lihat, dibalik semak-semak itu ada sorot mata kuning. Itu macan tutul sedang mengintai dan di dahan bawah, ada tiga monyet ekor panjang yang sedang memperebutkan sisa makanan. Kita harus cari jalan lain," ucap Pingo.

"Kita harus menyeberangi ular hitam berasap untuk sampai ke bukit hijau di seberang. Manusia menyebutnya jalan aspal, tapi bagi kita, dialah ular raksasa hitam yang panas dan berbahaya, dengan 'monster besi' yang berlarian di atasnya," Pingo berbisik tenang.

Setelah menunggu 'monster besi' lewat, Pingo dan Abel merangkak cepat di atas aspal. Jantung mereka berdebar sangat kencang, dag-dig-dug! Brmmmmmm! 

Truk besar hampir lewat, tapi mereka segera melompat. Hup! Mereka segera memanjat pohon rimbun yang masih tersisa. Di sana, Pingo melihat pucuk daun muda yang segar dan hijau.

"Abel, sebelum makan buahnya, makanlah pucuk daun muda ini dulu," kata Pingo sambil memetik beberapa lembar. "Ibuku dulu bilang, pucuk daun muda ini penuh nutrisi dan mineral yang kaya manfaatnya untuk tubuh kita, supaya tetap kuat saat menempuh perjalanan jauh."

Abel pun mengunyah pucuk daun itu dengan lahap. Benar saja, beberapa menit kemudian, tubuhnya terasa lebih segar. Setelah itu, mereka melanjutkan makan buah-buah hutan yang ranum dan manis. "Nyam, nyam, nyam! Hmm enakk.”

Setelah kenyang dan merasa aman, Pingo tidak sedih lagi. Dia berdiri, menggerakkan bahunya dengan luwes dan kembali bernyanyi dengan yang riang sambil melanjutkan perjalanan.

Ayo nari, ayo nyanyi, hati riang gembira

Hutan baru, rumah kita, sudah ada di sana

Ayo nari ayo nyanyi hati riang gembira

Sungguh senang, hutan hijau, sudah di depan mata

Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah hutan yang asri. “Aha! Akhirnya kita selamat dan menemukan rumah baru.” Ucap Pingo. Saat itu, dia menyadari sesuatu. “Terima kasih Pingo, ternyata pucuk daun muda tadi sangat berkhasiat,” ucap Abel terharu.

“Sama-sama, tapi sayangnya fauna jenis kita hampir punah,” Pingo menghela napas.

“Iya, mulai detik ini kita semua harus menjaga alam agar kehidupan tidak berhenti.”

“Benar, Bel aku setuju kita harus menjaga alam untuk kehidupan masa depan.”

Teman-teman, tidak semua hewan seberuntung mereka, lho. Hutan terus menyusut. Nyanyian Pingo hari ini adalah pengingat untuk kita agar hutan di Jawa Barat tetap lestari.

###

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjemput Senyum di Balik Luka Masa Lalu

Nilai Nol di Rapor Cermin Kemalasan Guru?

Tips Menulis Buku Self Improvement yang Inspiratif