Harmoni Indah 2 Cahaya



Ketika senja datang di peraduan. Air hujan turun rintik-rintik. Seseorang menikmati secangkir kopi tanpa gula. Alin namanya, gadis yang masih duduk di bangku kuliah dan penikmat aroma petrikor.

“Masih aja sibuk pegang buku, anak muda lain pegang tangan pacarnya, Lin.” Bibi Parni sengaja mengejek. Alin sedang bergulat dengan soal-soal ujian. Dia sedikit angkuh karena sang bibi mengusiknya.

“Aku nggak peduli,” Alin cuek. Dia keras seperti balok es. “Masih percaya sama mimpi? Di saat semua orang sibuk dengan pesta, kamu malah…” Bibi Parni tak melanjutkan ucapannya.

“Sudahlah, Bi. Jangan tanya aku lagi.”

“Malam ini, semua anak muda di wilayah rumah kita merayakan pernikahan Silvi.”

“Tumben Bibi mau ngobrol hal ini sama aku,” 

“Kamu nggak peduli? Bukannya dia sahabat dekatmu?” tanya Bibi Parni heran.

“Bukan begitu, Bi. Aku nggak ikut karena sibuk, Bi.” Alin menjawab dengan wajah kaku.

“Kapan kamu nggak sibuk? Lagian otakmu nggak capek apa, dipakai belajar terus? Coba kamu pikir, mana ada orang yang nggak mau jadi istri konglomerat di zaman sekarang? Hidup sudah terjamin dan nggak perlu keringat. Bibi nyesek waktu kamu tolak juragan kaya H. Dayat, padahal dia orang paling kaya di sini.”

“Memangnya, aku harus nikah dengan tujuan cari kekayaan? Picik itu, sih.” Alin geleng-geleng.

”Zaman sekarang yang penting gimana caranya nggak kelaparan, Lin. Coba kamu nikah sama artis atau konglomerat, pasti hidup kamu akan bahagia.” Ucap Bibi Parni jutek. 

“Maksud Bibi, aku akan cocok hidup dengan lintah darat atau konglomerat tukang kawin?” Kedua bola mata Alin nampak serius. Emosinya sudah hampir naik ke ubun-ubun.

“Suatu saat kamu akan menyesal tidak dengar ucapan Bibi.” Bibi Parni sewot.

“Tenang, Bi jodoh sudah ada yang atur. Kita serahkan saja sama gusti Allah.” Alin menghela napas. “Huft”

Tiba-tiba Bibi parni naik pitam. “Cewek kayak kamu belagu dan sok jual mahal nantinya nggak laku. Mending nikah sama orang kaya daripada capek kuliah buang-buang uang dan tenaga.” Bibi Parni terus menceracau. Sementara Alin memalingkan wajah.

“Mulai sekarang, perhatikan penampilan. Jangan pakai kerudung lebar sama kaos kaki. Mending bantu Om Ciwa jadi konten creator. Dandan yang menor kayak artis tiktok.”

“Udahlah, Bi. Ini duniaku, nggak usah ikut campur. Suatu saat aku akan buktikan kalau aku bisa. Almarhum Mama juga pasti bahagia kalau aku fokus kuliah,”

“Ya, tapi mau sampai kapan? Mau nunggu tua? Lantas kamu nanti jadi beban semua orang?”

“Ya, nggaklah Bi.”

“Udahlah, buat apa ngejar ijazah?”

“Aku nggak peduli. Biarin aku sendiri menikmati hidupku. Kalau tidak suka, biar aku pindah dari sini.” Alin kesal dengan sang Bibi. Wajahnya nampak muram.

“Lantas kau mau menumpang hidup ke mana?”

“Ke Panti atau di mana saja, Bi yang penting aku bisa hidup.”

“Ya udah, jangan sampai aku lihat batang hidungmu di sini. Mulai saat ini lupakan tempat ini dan pergilah!” Bibi Parni membuang muka lalu pergi meninggalkan Alin yang sedang gelisah. 

Bola matanya berkaca-kaca. Bagai air hujan yang tumpah ke wajahnya yang ayu. Alin mengambil beberapa lembar baju dan barang pribadi. Dia juga membawa foto keluarganya. Semua dia masukkan ke dalam tas. Dia bertekad untuk mengejar mimpi tanpa bayang-bayang sang bibi yang selalu memaksanya menikah. Sebelum menutup pintu, Alin sempat menulis di secarik kertas.

“Aku pamit, jangan cari aku lagi. Kalau aku diwisuda, Bibi boleh datang menemuiku.” Alin melangkah dengan yakin. Di kejauhan sang bibi yang mengintipnya, hanya tersenyum kecut. Alih-alih melarang keponakannya, dia malah melanjutkan aktivitasnya. 

Semilir angin membelai sepoi-sepoi. Malam itu Alin menginap di tempat kos sahabatnya, Namun, dia menutup kuping dan bersembunyi di dekat dapur karena dia tidak mau mengganggu sahabatnya. Meskipun sempit dan dada penuh sesak, dia berusaha untuk bertahan. Alin tak mampu memejamkan mata, dia lagi-lagi mengetik di laptop dan memaksa kedua bola matanya untuk mengerjakan tugas kuliah.

Keesokannya hari tepatnya di pagi buta, Alin bersujud di sepertiga malam. Dia ingin bercerita pada Sang Kuasa tentang kesunyian yang semakin menyiksa dan hidup tanpa sebuah jendela. Alin tak mampu melawan rasa yang hebat pada sang ibu. 

Kehangatan kasih ibu yang menjadi kekuatan baginya untuk mewujudkan impian. Alin selalu giat belajar. Dunianya adalah ilmu. Semua itu dia lakukan karena satu alasan. Ya, untuk bangkit melawan tabir kemiskinan. Namun, tak bisa dipungkiri, Alin hanya hidup sebatang kara. 

Alin melirik ke arah jam dinding. Di ruang tengah, Alin merapikan sajadahnya. Alin tak kuasa menahan resah. Bulir-bulir air jatuh. Wajahnya yang bersih kini basah. Sekali lagi dia melangitkan doa. “Tuhan, tolong aku. Besok aku harus berjibaku dengan soal ujian dan tugas dari dosen yang menumpuk. Aku juga harus kerja part time. Tolong kuatkan pundak ini agar aku tangguh menghadapi tumpukkan beban.” Gumam Alin dalam hati.

Dia menghela napas. Sesekali dia menghapus air mata. Alin berhenti melangitkan doa tepat di saat azan subuh berkumandang. “Allahu akbar, Allahu akbar.” Alin terperanjat. Dia membuyarkan lamunannya.

Ketika hendak bertakbir, tiba-tiba Alin terkejut dengan suara berisik di kamar sahabatnya, “Hmm, itu suara apa? Kok, aneh.” Gumamnya dalam hati. Selang tak berapa lama setelah mengucap salam, Alin semakin terkejut melihat sosok laki-laki muda keluar dari kamar sahabatnya dengan hanya memakai handuk berwarna pink. Sontak, dia langsung menutup wajahnya dan was-was. “Astagfirullah, kenapa kalian bisa sampai…”

Seorang gadis membuntuti lelaki itu dari belakang. Tubuhnya hanya ditutupi selimut. “Oh, tidak Airin! Bagaimana kalau kamu hamil?” Alin terkejut bukan main. Kedua bola matanya membulat. Jantungnya berdetak cepat. Rasa panik campur was-was mulai menguasai hatinya.

“Jangan bilang ke orang tuaku, ya. Pliss, soalnya tadi malam…” Airin membela diri.

“Istighfar! Berhubungan seks sebelum nikah itu dilarang. Apapun alasannya tidak dibenarkan dalam agama kita karena itu namanya perzinahan.” Tatapan Alin yang tajam membuat dua orang pasangan itu tertunduk malu.

“Meskipun kami sama-sama cinta?” tanya Airin polos.

“Aku khawatir ini hanya nafsu sesaat, lebih baik kalian menikah agar halal dan kalian tidak terjebak ke dalam pergaulan bebas. Kalian harus bertanggung jawab terhadap diri kalian. Abis ini, aku mau pamit. Aku akan pergi mengunjungi makam Ibu. Setelah itu, ke panti asuhan.”

“Apakah kamu akan ke panti untuk ketemu sama adikmu juga?” tanya Airin dengan nada lirih.

“Iya. Coba kapan-kapan kamu ke sana juga, ajak pacarmu ini. Lihat keadaan anak panti. Di antara mereka banyak yang menjadi korban anak yang terbuang karena orang tuanya melakukan hubungan gelap dan tidak bertanggung jawab.”

“Hmm, aku sama Angga minta maaf, Lin. Kami tidak bisa menjaga hawa nafsu dan terseret masalah yang rumit. Jika ada cabang bayi dalam rahimku pasti aku akan merawatnya.”

“Jangan minta maaf sama aku. Jika kalian berdua nantinya akan memiliki keturunan dari hasil hubungan kalian, maka jagalah itu. Kalian di sini, kan mahasiswa yang tujuannya untuk menuntut ilmu, jadi buktikan kalau kalian bisa lulus, juga perdalam lagi ilmu agama agar tidak mudah terjebak pergaulan bebas.”

“Iya, Lin. Pasti akan kami ingat nasihat kamu. Terima kasih, tolong jaga rahasia ini, kami tidak akan mengulanginya lagi.” Airin dan Angga berurai air mata sambil menutup wajah mereka.

Alin menghela napas, lalu tanpa kata dia bergegas merapikan barang-barangnya. Dia sudah muak melihat keadaan di sana. “Inilah yang membuat aku enggan menikah. Kebanyakan orang sibuk dengan nafsu tanpa peduli dengan akibatnya.”Ucap Alin dalam batin. 

Alin mengambil sandal gunungnya. Dia ingin melangkah lebih jauh dari orang-orang yang tidak menghargai hidup dan menarik cahaya kegelapan. Alin meninggalkan secarik kertas bertuliskan:

“Hidup ini terlalu rumit, jangan biarkan satu kesalahan kita merusak semuanya, sehingga kita hidup dalam gelap. Lebih baik kita wujudkan mimpi untuk masa depan, Rin. Karena hidup ini hanya sekali dan terlalu berharga.” Kertas itu dia sisipkan di bawah ponsel Airin. Dia berharap gadis itu sadar bahwa hidup bukan untuk kesenangan sesaat dan menuruti hawa nafsu hanya akan condong pada jalan kegelapan.

Ketika sang surya menampakkan cahayanya dan terik mulai naik ke atas ubun-ubun, Alin berkunjung ke makam sang ibu. Di atas pusara tumpukan tanah merah, dia bicara sendiri di makam ibunya.

“Ibu, aku rindu. Akan ku jaga adik seorang diri sampai dia dewasa. Aku tidak akan menikah sampai dia bisa menatap masa depan yang cerah. Aku janji akan berjuang meraih impianku sebagai pengusaha sukses.” 

Dalam perasaan gamang, Alin melangitkan pinta pada Sang Kuasa. Dia yakin semua yang dilakukan pasti akan membuahkan hasil. 

***

Alin kemudian beranjak pergi menuju Panti Asuhan Bina Mulya. Di sana dia bertemu dengan Ibu Rohani, seorang pimpinan panti yang sangat baik. “Apakah saya bisa tinggal di sini, Bu?”

“Tentu saja, Nak. Bantu saya nanti untuk mengajari anak-anak panti baca dan tulis.”

“Baik, Ibu. Saya juga akan membantu Ibu buat proposal dalam mencari orang tua asuh bagi anak-anak yatim di panti ini.” Alin tersenyum kecil.

“Syukurlah kalau begitu. Bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Ibu paruh baya itu.

“Saya sedang kuliah semester akhir, Bu. Beberapa bulan lagi saya akan sidang skripsi dan doakan saya agar lulus dengan nilai yang bagus.” Alin bicara dengan semangat.

“Tentu saja. Asal kamu bisa bagi waktu, semua hal yang kamu impikan pasti terwujud, kok.”

“Amin, terima kasih doanya, Bu.” Alin menyudahi pembicaraan. Alin berjalan ke kamar sang adik.

***

Di sana dia tak kuasa menahan tangis. “Kamu sudah mulai bisa melangkah, Dek.” Ucapnya terharu. Sang adik hanya tersenyum.

“Ka Alin, sini peluk Adeknya.” Ucap Bu Darmi pengasuh sang adik.

Alin tak mampu berkata-kata. Hanya semburat haru yang ada di dada. Dia bersyukur masih bisa melihat adiknya. Bahkan, dia juga menyuapinya. Setelah puas bercengkarama, dia berangkat ke Kampus Universitas Indonesia.

***  

“Serius banget ngerjain tugasnya, mau kopi nggak?” tanya Imam. Dia adalah seorang lelaki berusia 25 tahun yang gemar menulis dan menjadi partner kerja Alin.

“Hmm, aku emang ngantuk juga. Sini mana kopinya.”

Imam menyodorkan kopi lalu pergi tanpa kata. Alin menikmati beberapa teguk. Setelah ujian selesai, Alin baru sadar, kalau dia belum mengucapkan terima kasih.

“Orang itu, pergi nggak bilang-bilang.” Gumam Alin. Dia tak mempedulikan kebaikan Imam. Kemudian, dia pergi menuju parkiran lalu ke redaksi Majalah Mahasiswa Kampus UI yang jaraknya hanya lima belas menit dari Gedung kampusnya. 

Saat baru melepas helm, Alin melihat sosok bayangan Imam ada di ruang kerjanya. Alin membuka pintu lalu menaruh tas dan dia mulai menghidupkan komputer. “Lin, sumber informasi yang gue udah cari dan hasil riset, gue udah kirim ke blog pribadi lu. Sekarang lu baca aja. Gue jamin dalam waktu dua jam kerjaan lu kelar.”

“Huft, tau aja gue lagi butuh itu.” Alin tak menatap wajah imam sedikit pun, bahkan berterima kasih. Wajahnya lesu karena kurang tidur. 

“Nih, rujak buat lu, jangan lupa pas pulang mandi air hangat, biar istirahat enak.”

“Iya, jangan bawel kayak bibi gue aja lu.” Alin menjawab asal. Dia fokus menatap layer monitor.

Imam pergi tanpa kata. Namun, setelah dua jam berlalu, Alin baru sadar akan sesuatu. “Kok, tumben hari ini lancar banget urusan gue, jam 4 sore udah bisa pulang. Jam 5 gue bisa ngajar privat ngaji nih di Masjid dekat panti. Alhamdulillah, ini pasti karena pertolongan Allah.” Ucap Alin dalam hati.

***

Azan Maghrib berkumandang. Alin tiba di panti tepat waktu. Wajahnya nampak lelah. Namun, dia tidak mengeluh. Tiba-tiba suara ponsel Alin berbunyi. Kedua bola matanya tertuju pada chat. Dia membaca dengan cepat. “Jangan lupa makan. Gue titip nasi goreng ke Ibu Rohani, abisin ya.” 

“Si Imam kenapa baik banget hari ini? Wah, lumayan, nih. Pas banget lagi laper ada nasi goreng.” Ucap Alin dalam hati. Dia belum menyadari apapun. Namun, dibenaknya dia merasa kalau ada Imam semua akan baik-baik saja. 

Pukul 19.30 WIB Alin mengajari anak-anak panti baca dan tulis. Dia juga bercengkrama dengan adiknya dan menyuapi sang adik MPASI. Alin merasa senang karena hari itu, dia telah melewati banyak hal yang terjadi.

***

Keesokan harinya, Alin menjalani aktivitas seperti biasa, hingga tibalah saatnya Alin menunggu pengumuman penting. Ya, dia menunggu hasil nilai yang selama ini dia perjuangkan, bukan hanya soal angka, tetapi lebih dari itu. 

Alin sangat khawatir nilainya jelek. Itu artinya dia gagal dan sulit mendapatkan program beasiswa lagi. “Nilainya skripsi lu sudah bisa diunduh secara online, Lin. Kenapa hanya mematung di situ? Memangnya kamu mau jadi penjaga kampus?” Imam sengaja menggoda Alin.

“Bisa aja, nih. Terus nilai gue gimana, Mam? Coba lihat!” Alin penasaran. Dia mengambil ponsel Imam, kedua bola matanya tertuju pada ponsel itu. Imam membelalak. Dia terkejut karena takut jemari gadis itu mengenainya. 

Imam adalah laki-laki yang saleh. Dia sangat menjaga pandangannya. “Ya sabar, Lin. Jangan main serobot aja, aduh bisa bahaya nanti.” Imam takut.

“Iya, maaf. Namanya juga deg-degan.”

“Maksudnya, lu deg-degan lihat gue apa nilai, nih.” Imam cekikikan meledek Alin.

“Ah, ya nilai, dong.” Mereka ketawa bareng. Keadaan jadi lebih rileks. Alin tidak menyadari apapun saat itu, dia hanya fokus pada nilai. Imam kelihatan kecewa karena Alin kurang peka. Padahal hampir aja Imam mau nembak Alin, tapi semua itu tidak terjadi.

“Alhamdulillah, gue dapat nilai bagus. Yeay, nggak sia-sia perjuangan gue, Mam.” Alin meloncat kegirangan.

“Syukurlah kalau begitu, gue juga ikut senang.” Keduanya nampak terharu melihat nilai mereka yang bagus.

“Abis wisuda, lu mau lanjut kerja atau kuliah?” tanya Imam penasaran.

“Gue mau daftar beasiswa ke Sydney.”

“Kalo lu gimana?” Imam malah bengong. Ada sesuatu yang tidak bisa dia ucapkan dan masih tertahan. Dia malah menatap Alin lekat.

“Woy, bengong aja!” Alin teriak sampai Imam terkejut.


  “Gue mau kuliah ke Mesir.” Jawab Imam kaget. 

“Semoga kita sukses, Mam.”

“Iya, amin.” Keduanya nampak malu. Namun, berusaha untuk pura-pura.

***

Acara wisuda berjalan dengan khidmat. Alin nampak bahagia dia memakai riasan natural dibalut kebaya yang manis. Wajahnya berseri-seri. Sahabatnya, Airin dan Angga datang memberikan selamat begitu pula Bibi Parni dan Ibu Rohani. Mereka semua tertawa lepas kecuali Imam. Dia kelihatan sedih karena mulai saat itu, dia dan Alin tidak akan bertemu lagi.

“Mam, muka lu kenapa? Ini momen wisuda, mana wajah ceria lu?” Alin heran.

“Lu bisa ketawa, tapi gue nggak, Lin.” Wajah Imam murung.

“Emangnya kenapa? Soalnya, lu bakal kuliah lagi di Sydney, sedangkan gue ke Mesir.

“Emangnya kenapa? Itu, bagus, kan?” Alin mulai heran dengan sikap Imam.

“Ya, emang bagus, suatu saat lu pasti ngerti. Ini ada kenang-kenangan buat lu.” Tatapan Imam sedikit berbeda.

Alin limbung. Dia mengambil hadiah dari Imam lalu menaruhnya ke dalam tas tanpa menyadari apapun. Namun, ketika Imam dan keluarganya mengajak Alin makan di Restaurant Betawi, dia menolak karena merasa tidak enak hati. Imam kecewa, dia menghapus nomor Alin dan pulang tanpa kata.

  “Ada apa dengan Imam.” Ucap Alin dalam hati. Meskipun begitu, euphoria wisuda menyelimuti hatinya yang bahagia dia tidak menyadari sesuatu. Ketika acara sudah selesai, Alin mengantar Airin dan Angga serta Bu Parni ke parkiran Gedung Balairung kampus UI.

***

“Selamat ya, Lin. Semoga setelah mimpi lu tercapai, segera dapat jodoh yang sekufu.”

“Iya makasih, Rin. Sampai saat ini gua nggak mikirin soal jodoh dulu yang penting saat gue lulus S2 di Sydney, gue bisa menciptakan peluang bisnis untuk masa depan.”

“Gue harap semua itu tercapai, bye.” Keduanya saling bersalaman dan melambaikan tangan.

Alin tertawa bahagia, tetapi saat sang bibi memberikan ucapan selamat, tiba-tiba senyumnya hilang dan berubah jadi luka.

“Jangan jadi perawan tua, Lin. Ingat setinggi apapun mimpi, lu tetap bakal di dapur, sumur dan kasur. Jangan sampai, lu lupa kodrat sebagai perempuan.” Wajah Bibi nampak serius. Matanya melotot membuat semua orang di sana menghindarinya. Alin merasa lalu karena bibinya membuat kegaduhan.

“Iya, aku juga ngerti kok Bi.”

“Nah, sekarang lu mau nikah sama orang kaya se-kota Jakarta? Atau sama politikus?”

“Aku nggak mau nikah dulu, Bi. Soalnya mau lanjut kuliah di Sydney.”

“Alah, ngapain kuliah di luar, toh ijazah lu nantic uma jadi kertas. Mending nikah sama orang kaya dan nikmatin hidup. Adik lu butuh duit bukan ijazah.”

“Ya, aku juga bakal kerja paruh waktu di sana sambil kuliah dan ngumpulin uang, Bi.” Suara Alin terdengar lirih.

“Kalau lu jadi perawan tua, jangan nyesel nantinya.”

“Iya, insya Allah nggak, Bi.” Alin pasrah, tapi dia yakin pada keputusannya.

Kemudian, Alin menelan ludah. Dia juga tak kuasa menahan kesal karena ucapan bibinya. Namun, dia tak merasa heran dengan sikap bibinya yang tak pernah berubah.

Ketika semua orang pamit pulang. Alin baru ingat sesuatu, “Oh, iya aku belum ngucapin terima kasih sama Imam.” Gumamnya.

Alin mengirim pesan chat pada Imam, tapi gagal terkirim. Dia pun menelpon Imam, tapi tak pernah diangkat. Anehnya, dia merasa Imam sudah memblokir nomor ponselnya. Keesokan harinya dia mencoba lagi menghubungi Imam, tapi tetap gagal. Kemudian, dia merenung.

“Kenapa aku merasa ada sesuatu yang hilang? Seolah-olah harta yang paling berharga. Apa yang terjadi pada diriku sebenarnya?” batin Alin tak henti bergumam.

Alin menangis sesenggukkan. Dia baru menyadari perasaannya setelah melihat hadiah dari Imam. Sebuah liontin bertuliskan. “Untuk bidadari surga.” Kedekatan batin mulai terasa. Namun, sudah terlambat. Imam sudah terbang ke Padang dan seminggu lagi dia akan berangkat ke Mesir. 

Dalam kesedihannya, Alin menghapus air mata. Rupanya dia telah mencintai seseorang tanpa kata. Tanpa pernah disadari. Dia tahu, Imam menyimpan sesuatu sejak lama. Rahasia yang terpendam. Sebuah harmoni dari dua jiwa yang berjuang untuk menggapai cahaya harapan. 

Alin memang telah kehilangan Imam, sahabat yang selalu membantunya baik suka maupun duka, tetapi dia bangkit dan mulai menata hari yang baru.  Lama kelamaan Alin bisa melupakan Imam dan dia berubah menjadi wanita dewasa yang kuat dan menghadapi semua persoalan sendiri. 

Alin terbang ke Sydney untuk menuntut ilmu. Di sana, dia berjuang dengan aktivitas yang padat, sehingga bisa melupakan sosok pemuda bernama Imam. Dua tahun bukanlah hal yang mudah bagi Alin. Namun, dia percaya akan kekuatan mimpi. Semua perjuangan dan proses yang dijalani.

Alin nekad kerja part time dan hidup prihatin demi impiannya. Bahkan, dia sering mengirim uang ke panti asuhan untuk biaya hidup adiknya. Dia tak kenal lelah, setiap hari belajar dan praktik membangun koneksi bisnis dengan rekan-rekannya.

Alin berhasil lulus dengan nilai cumlaude dan pulang ke Indonesia dengan bahagia. Ilmu bisnis dari dosen-dosen di Australia memang luar biasa.  Alin mampu berinteraksi dengan cepat dan melakukan kerja sama dengan berbagai rekan bisnisnya.

Dia juga berhasil mendapatkan kepercayaan dari Perusahaan asing untuk masalah modal bisnis batik yang digeluti. Di saat itulah, ia mulai perjuangannya dalam mengelola bisnis hingga maju pesat dan berkembang luas ke seluruh manca negara.

Dalam waktu dua tahun Alin menjadi miliarder. Adiknya tumbuh besar dan hidup bersamanya. Alin tidak peduli dengan dirinya, sehingga di usia 40 tahun dia belum juga menikah. Setiap kali sang bibi mengusiknya dengan pertanyaan tentang pernikahan, dia selalu teringat dengan Imam. Sosok pemuda yang pernah singgah dan masih dikenang dalam hati. 

“Lin, kenapa tidak ke Padang untuk perjalanan bisnis?” tanya Airin iseng.

“Ah, memangnya kenapa harus ke Padang?” tanya Alin.

“Siapa tahu kau bisa jemput jodohmu di sana.” Timpal Airin sambil tertawa.

“Semoga saja, tapi apa Imam masih ingat aku? Jangan-jangan dia sudah menikah.” Alin ragu.

“Kalau jodoh tidak ke mana. Tidak ada salahnya berusaha, kan?”

“Baiklah, aku dan tim akan ke sana.” Airin kegirangan. Dia melihat baru pertama kali senyum Alin mengembang. Seolah-olah ada harapan baru yang muncul di kelopak matanya yang sayu.

Alin tiba di kota Padang dini hari. Dia ke hotel untuk istirahat lalu membawa sebuah liontin. Kemudian, dia pergi bersama rekannya untuk launching karya terbaru dan meluncurkan produk batik di sebuah Mall besar. 

Saat berdiri di antara ratusan orang, dia berdoa dalam hati. “Tuhan, pertemukan aku dengannya.”

Alin meremas liontin itu kuat-kuat pikirannya sibuk menerka dan hatinya selalu berdoa. Tiba-tiba di belakang panggung, datang seorang pemuda menghampirinya. Wajahnya bersih, memakai jaket almameter. Dengan gagah berani dia menghampiri Alin.

“Boleh minta waktu sebentar?” Sorot tajam mata lelaki itu menembus jantung Alin yang berdetak cepat lebih dari biasanya.

“Maaf, kamu siapa, ya? Dari suaranya sepertinya kita pernah ketemu,” Alin limbung. Dia belum menyadari sesuatu.

“Universitas Indonesia, kita pernah ketemu, tapi setelah lulus kamu terbang ke Sydney dan saya ke Mesir. Setelah itu, kita tak pernah bertemu lagi.”

Deg. Alin menatap mata lelaki itu tajam dan dia terpana. Tak satu pun kata keluar dari bibirnya.

Tubuh Alin gemetar. Dia hampir roboh karena syok.

“I-i-mam…kamu benar Imam Al-Khalifi?” mata Alin membelalak seolah tak percaya dengan semua yang terjadi.

Imam mengangguk dengan senyuman. “Ya Allah, kamu sudah kembali rupanya,” Keduanya tersenyum malu. “Istrinya mana kok tidak diajak?”

“Istri siapa, Lin? Aku masih Imam yang dulu, sahabatmu.” Keduanya menangis bahagia.

“Lalu kapan kamu menikah, Mam?”

“Aku mau melamarmu boleh tidak?”

Alin tak mengucap sepatah kata pun. Dia hanya tertawa kecil. Imam ternyata tidak berubah dia masih sama seperti yang dulu. Hanya air mata haru yang mengalir disudut netranya. 

Imam menarik tangan kawannya. “Zal, aku minta tolong kamu saksinya, aku melamar Alin di sini sekarang.”

Alin tersenyum dan tersipu malu. Hatinya berucap,”Terima kasih ya, Allah. Jodohku sudah datang menjemput. Di kota ini, aku melabuhkan harapan terakhir bersamanya.”

***

The End

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review film When gives you tangerines

Jangan Melakukan Tindak KDRT Psikis Bila Tidak Mau Kena Sanksi Hukum

Jurnal Harian Mereguk Ilmu