Projek Menulis & Membuat Video


 Ujian Praktik Kelas 9 hari rabu atau kamis dari pukul 07.30-10.00 WIB mulai dari kelas 91-94 di folio atau tulis tangan. 

Buatlah tulisan atau karya Pengalaman Pribadi yang Menginspirasi pilihan. Originalitas yang dinilai jadi jangan plagiarism. Keaslian ide cerita point utama, bukan merupakan saduran langsung dari internet.

 tema naskah kamu berkisar tentang :

Cerita tentang perjuangan menghadapi kesulitan, momen titik balik dalam hidup, atau pengalaman emosional yang memberikan pelajaran berharga.

Kisah Tokoh di Sekitar: Mengangkat cerita inspiratif dari orang tua, guru, atau tokoh masyarakat di lingkungan yang memiliki nilai moral kuat.

Isu Sosial Remaja: Tema seperti perundungan (bullying), persahabatan, kejujuran atau pencarian jati diri yang dikemas secara naratif dan sebagainya.

Format penilaian praktek menulis:

No Aspek Penilaian Bobot Indikator Penilaian

1 Isi Gagasan 30% Menilai keaslian cerita, kesesuaian dengan tema, dan kedalaman pesan moral2.

2 Struktur Teks 25% Kelengkapan elemen narasi: Orientasi, Komplikasi, Resolusi, dan Koda3333.

3 Diksi & Gaya Bahasa 20% Ketepatan pilihan kata (diksi) untuk membangun suasana dan penggunaan kalimat ekspresif4.

4 Penerapan EBI (PUEBI) 25% Kepatuhan terhadap aturan ejaan, tanda baca, dan kapitalisasi yang benar5.

 Contoh tulisan cerita inspiratif

Cahaya di Balik Jendela Kaca

(Orientasi) Kota Depok sore itu sedang dibasahi hujan rintik yang awet. Di sebuah rumah sederhana di sudut gang yang tenang, seorang remaja laki-laki duduk terkurung di balik meja belajarnya. Namanya Arkan. Di usianya yang menginjak lima belas tahun, saat kawan-kawan sebayanya sedang asyik bertanding sepak bola atau sekadar nongkrong di kafe kekinian, Arkan harus puas dengan dunianya yang hanya seluas empat kali empat meter.

Arkan lahir dengan kondisi fisik yang istimewa. Penyakit autoimun yang menyerang persendiannya sejak kecil membuat kakinya tak mampu menopang tubuh terlalu lama. Dunianya adalah kamar ini, dan jendela kaca besar di samping mejanya adalah satu-satunya "televisi" yang menyajikan realitas luar secara langsung. Arkan sangat gemar menulis. Baginya, setiap kata yang ia goreskan di buku catatan bersampul cokelat itu adalah sayap yang membawanya terbang melintasi pagar rumah.

(Komplikasi) Suatu pagi, grup WhatsApp kelas IX heboh. Sebuah poster digital dikirimkan oleh Pak Damar, guru Bahasa Indonesia mereka. “Lomba Digital Storytelling: Ceritakan Duniamu melalui Kata dan Media.” Pengumuman itu membuat jantung Arkan berdegup kencang. Ia sangat ingin ikut. Ia memiliki ratusan draf cerita di lacinya. Namun, kegembiraan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum digantikan oleh awan hitam keraguan.

"Bagaimana aku bisa bercerita tentang dunia?" gumam Arkan pelan. Matanya nanar menatap kakinya yang kaku di atas kursi roda. "Duniaku hanya tembok putih dan jendela ini. Orang lain bercerita tentang petualangan mendaki gunung, hiruk pikuk pasar, atau indahnya pantai. Apa yang bisa kubicarakan? Tentang debu di kaca jendela?"

Rasa rendah diri itu tumbuh subur seperti tanaman liar. Arkan mulai membandingkan dirinya dengan teman-temannya yang lincah. Ia merasa ceritanya tidak akan berharga karena ia tidak "mengalami" hidup secara fisik. Dengan emosi yang meluap, Arkan meremas draf cerita yang baru setengah ditulisnya. Ia nyaris melempar buku catatan kesayangannya ke tempat sampah. Ia merasa bahwa keterbatasan fisiknya telah memenjarakan imajinasinya. Kegelapan batin mulai menghimpit semangatnya, membuatnya merasa kecil dan tidak berguna.

(Resolusi) Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan membiaskan warna jingga melalui jendela, Ibu masuk ke kamar Arkan. Beliau tidak membawa makanan, melainkan sebuah kotak kayu yang sudah berdebu. Di dalamnya terdapat sebuah kamera DSLR tua milik mendiang ayah Arkan.

Ibu duduk di tepi tempat tidur, menatap Arkan dengan kelembutan yang hanya dimiliki seorang ibu. "Ibu tahu kamu sedang gelisah tentang lomba itu, Arkan," ucap Ibu tenang.

"Aku tidak punya cerita, Bu. Duniamu dan duniaku berbeda. Aku tidak melihat apa-apa dari sini," jawab Arkan dengan suara parau.

Ibu memegang tangan Arkan, lalu menunjuk ke arah jendela kaca. "Arkan, dunia tidak hanya tentang seberapa jauh kakimu melangkah, tapi tentang seberapa tajam hatimu melihat. Kamera ini dulu merekam banyak hal besar bagi Ayahmu, tapi ia selalu bilang bahwa keindahan yang paling jujur justru ada pada hal-hal kecil yang sering diabaikan orang yang terburu-buru."

Kata-kata itu seperti aliran air dingin di tengah padang pasir. Arkan terdiam. Setelah Ibu keluar, ia meraih kamera tersebut. Ia mulai mencoba melihat jendelanya dengan cara yang berbeda.

Esok harinya, Arkan mulai bekerja. Ia tidak lagi mengeluh. Saat hujan turun, ia memotret bagaimana butiran air berkejaran di permukaan kaca—ia menuliskan narasi tentang kesabaran. Saat seekor kucing liar berteduh di bawah tanaman hias ibunya, ia memotret tatapan lapar sang kucing—ia menulis tentang bertahan hidup. Ia merekam interaksi tukang sayur yang bercanda dengan tetangganya di depan pagar—ia menulis tentang kebahagiaan sederhana.

Arkan mulai menyusun foto-foto dan klip pendek itu menggunakan aplikasi di laptopnya. Ia mengisi suara (voice over) dengan naskah tulisannya sendiri yang jujur dan menyentuh. Ia tidak bercerita tentang dunia yang luas di luar sana, ia bercerita tentang "Dunia di Balik Jendela Kaca". Tentang bagaimana keterbatasan justru membuatnya bisa melihat detil-detil kehidupan yang dilewatkan orang-orang yang terlalu sibuk berlari.

(Koda) Hari pengumuman pun tiba. Seluruh siswa berkumpul di aula sekolah, sementara Arkan mengikuti melalui sambutan live streaming. Saat kategori "Karya Paling Inspiratif dan Menyentuh" dibacakan, nama Arkan bergema di pengeras suara sekolah. Video karyanya diputar di layar besar.

Seluruh aula mendadak hening. Banyak teman-temannya yang meneteskan air mata melihat bagaimana seorang Arkan mampu memaknai hidup dari balik jendela. Mereka yang selama ini bisa pergi kemana saja, tiba-tiba merasa malu karena jarang bersyukur.

Melalui penghargaan itu, Arkan belajar sebuah pelajaran berharga: bahwa karya yang besar tidak lahir dari kondisi yang sempurna, melainkan dari hati yang mampu melihat cahaya dalam kegelapan. Ia telah membuktikan pada dirinya sendiri dan dunia bahwa keterbatasan fisik bukanlah tembok penghalang, melainkan hanya sebuah sudut pandang yang berbeda.

Arkan kini tidak lagi merasa terpenjara. Ia tahu, selama hatinya tetap terbuka dan jemarinya tetap menulis, jendela kamarnya adalah gerbang menuju dunia yang tanpa batas. Jangan pernah membatasi impianmu hanya karena keadaanmu saat ini, karena seringkali, cahaya yang paling terang justru muncul dari tempat yang paling tersembunyi.

________________________________________

Analisis Struktur Cerita :

1. Orientasi (Paragraf 1-2): Mengenalkan tokoh Arkan, latar tempat (Depok), dan masalah fisik sebagai latar belakang.

2. Komplikasi (Paragraf 3-5): Konflik batin Arkan saat menghadapi lomba Digital Storytelling dan rasa rendah dirinya. Ini berkaitan dengan variabel Self-Disclosure (sejauh mana ia berani membuka diri).

3. Resolusi (Paragraf 6-12): Peran Ibu sebagai pendukung (motivator) dan proses kreatif Arkan mengubah sudut pandang serta memproduksi video.

4. Koda (Paragraf 13-15): Penutup yang berisi pesan moral tentang syukur dan makna keterbatasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review film When gives you tangerines

Jangan Melakukan Tindak KDRT Psikis Bila Tidak Mau Kena Sanksi Hukum

Berdamai dengan Masa lalu