ETIKA PENGGUNAAN AI DALAM DUNIA KEPENULISAN
Di zaman modern saat ini AI memudahkan orang dalam mencari informasi dari yang awalnya kebanyakan orang datang dan membaca buku atau kitab di perpustakaan, sekarang dengan tidak lagi. Sumber buku bisa dibaca melalui AI.
Apa yang ada di benak sahabat ketika pertama kali mendengar kata AI? Apakah informasi berupa riset yang kita cari di AI bentuk merupakan plagiarism? Apakah dosa mencari materi ilmu dengan AI? Perkara hal ini bukan ranah saya untuk menjawab, Pemikiran, pendapat dan apapun yang ada di benak kalian tentang AI Kembali pada masing-masing orang.
Setiap orang punya kebebasan dalam berpikir dan menentukan apakah mau menggunakan teknologi seperti AI atau tidak. Namun, di zaman modern ini tidak ada salahnya kita belajar membuka diri, menggali ilmu seiring perkembangan zaman. Jangan sampai jadi hal yang tabu karena saat ini sah-sah saja orang menggunakan teknologi asal tidak melanggar aturan, norma dan merugikan orang lain misalnya jangan gunakan AI untuk membuat naskah cerita lalu mengirimkannya ke lomba menulis.
Kenapa? Sebagai penulis, kita harus mengutamakan originalitas dalam berkarya. Penulis punya tanggung jawab lebih dalam hal ini karena profesi penulis bukan main-main. Tulisan kita akan menjadi Sejarah. Tulisan kita dapat mempengaruhi orang lain dan tulisan kita adalah bagian dari diri sendiri. Setiap penulis punya ciri khas, maka jadilah penulis yang jujur. Penulis yang mengangkat nilai kejujuran akan diteladani oleh pembacanya.
Lalu bagaimana cara agar kita bijak menggunakan AI dalam dunia kepenulisan?
Dalam materi ini saya tidak ingin menganjurkan sahabat SIL menggunakan AI di tengah pemahaman tentang baik dan buruknya peran AI dan pengaruhnya. Namun, sebagai alternatif pengetahuan kita harus tahu perkembangan zaman saat ini, teknologi penggunaan AI bukan hal yang tabu, sudah banyak di mana-mana orang memanfaatkannya misalnya untuk membuat flyer, membuat desain administrasi untuk mengajar, membuat konten bahkan ada pula yang memanfaatkannya untuk membuat buku.
Pembahasan kali ini saya tidak mengajarkan untuk membuat buku, tapi saya ingin menyampaikan etika penggunaan AI dalam dunia kepenulisan.
Malam ini kita akan bahas bareng tentang hal ini. Saya akan menyampaikan sedikit ilmu yang saya dapatkan sebagai mahasiswa teknologi Pendidikan.
Secara sederhana, AI adalah singkatan dari Artificial Intelligence, yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan Kecerdasan Buatan. Kecerdasan Buatan adalah sebuah teknologi yang memungkinkan mesin atau program komputer untuk meniru kemampuan kecerdasan manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman, memecahkan masalah, memahami bahasa, dan mengambil keputusan.
AI adalah upaya manusia untuk memasukkan kemampuan-kemampuan tersebut ke dalam mesin agar mesin dapat melakukan tugas-tugas yang biasanya memerlukan pemikiran manusia. Lantas bagaimana AI bekerja?
Bayangkan AI seperti seorang murid yang sangat rajin membaca jutaan buku dan melihat miliaran contoh kejadian. Mulai dari pengumpulan data, mencari pola atau aturan dari data misalnya, jika diberi ribuan contoh kalimat, mesin belajar bagaimana cara menyusun kalimat yang benar. Setelah paham akan polanya mesin memberikan perintah atau pertanyaan, mesin akan menggunakan pola yang sudah dipelajarinya untuk memberikan jawaban atau hasil yang paling tepat dan masuk akal.
Dalam dunia kepenulisan saat ini, terdapat beberapa jenis kecerdasan buatan yang memiliki peran spesifik untuk membantu proses kreatif. Sebagai penulis, kita harus memahami fungsi masing-masing agar bisa memanfaatkannya dengan bijak tanpa mengurangi orisinalitas karya.
Berikut adalah jenis-jenis kecerdasan buatan yang umum digunakan dan fungsinya:
a. Kecerdasan Buatan Berbasis Teks (Pemrosesan Bahasa)
Ini adalah jenis yang paling sering digunakan oleh penulis. Mereka bekerja dengan cara memahami dan menghasilkan bahasa manusia berdasarkan data yang sangat luas.
Fungsi Utamanya yaitu:
1. Penyusunan Kerangka: Membantu memecah ide besar menjadi bab atau sub-bab yang sistematis.
2. Pengembangan Karakter: Memberikan saran latar belakang tokoh atau sifat-sifat yang bisa memperkuat peran dalam cerita.
3. Curah Pendapat : Membantu mencari judul yang menarik, mencari sinonim, atau sekadar memberikan perspektif baru saat penulis mengalami kebuntuan ide.
b. Kecerdasan Buatan untuk Penyuntingan (Korektor Bahasa)
Jenis ini berfokus pada kualitas tulisan dari sisi teknis kebahasaan.
Fungsi Utama:
1. Perbaikan Tata Bahasa: Mendeteksi kesalahan ejaan, tanda baca, dan struktur kalimat yang kurang pas.
2. Penyelarasan Gaya: Memberikan saran agar gaya bahasa dalam satu naskah lebih konsisten.
3. Pengecekan Keterbacaan: Membantu penulis memahami apakah kalimat yang disusun terlalu rumit atau sulit dimengerti oleh pembaca.
c. Kecerdasan Buatan untuk Riset dan Perangkuman
Penulis sering kali membutuhkan waktu lama untuk riset. Jenis ini berfungsi mempercepat proses tersebut.
Fungsi Utama:
1. Perangkuman Dokumen: Mengubah artikel panjang, jurnal, atau laporan menjadi poin-poin penting yang mudah dipahami.
2. Verifikasi Konsep: Membantu mencari definisi istilah atau fakta dasar yang diperlukan untuk memperkuat latar belakang tulisan (namun tetap harus diverifikasi ulang secara manual).
d. Kecerdasan Buatan untuk Visualisasi (Pembangkit Gambar)
Meskipun penulis bekerja dengan kata-kata, jenis ini sering digunakan untuk membantu imajinasi.
Fungsi Utama:
1. Pembuatan Ilustrasi Sampul: Membantu membuat gambaran visual tentang bagaimana sampul buku atau ilustrasi tokoh akan terlihat.
2. Penyusunan Peta Dunia: Sering digunakan oleh penulis fiksi untuk membuat peta tempat atau suasana latar cerita agar penulis bisa lebih mudah mendeskripsikannya dalam tulisan.
Fungsi AI sebagai berikut:
Jenis Kecerdasan Buatan Fungsi dalam Kepenulisan
Berbasis Teks Mengembangkan ide, alur, dan kerangka cerita.
Penyuntingan Memperbaiki tata bahasa, ejaan, dan tanda baca.
Riset/Perangkuman Mencari fakta, meringkas data, dan mempercepat riset.
Visualisasi Membuat ilustrasi sampul, tokoh, atau latar cerita.
Tips Memanfaatkan AI Secara Cerdas
Agar kita tidak terjebak dalam masalah plagiarisme saat menggunakan berbagai jenis kecerdasan buatan di atas, terapkan langkah ini:
1.Gunakan sebagai "Lawatan Diskusi": Anggap alat-alat ini seperti seorang teman yang diajak berdiskusi, bukan sebagai "pengganti" yang menulis.
2.Verifikasi Ulang: Jangan pernah memasukkan data (sejarah, data statistik) dari AI tanpa mengeceknya di sumber yang terpercaya dan nyata.
3.Tulis Ulang dengan "Suara" : Apa pun hasil dari AI, wajib hukumnya untuk menulis ulang dengan pilihan kata (diksi) dan gaya bahasamu sendiri agar tetap mencerminkan jati dirimu sebagai penulis.
4.Tetaplah Menjadi Pengendali: Kamu adalah penentu keputusan akhir. Jika AI memberikan saran yang tidak sesuai dengan nurani atau gaya penulisanmu, jangan ragu untuk mengabaikannya.
Dengan memahami bahwa kecerdasan buatan hanyalah alat bantu, kamu akan tetap menjadi penulis yang orisinal, beretika, dan jauh dari masalah plagiarisme.
Cara pandang seorang penulis terhadap teknologi, khususnya kecerdasan buatan, haruslah berimbang dan strategis. Penulis tidak boleh memandang teknologi sebagai ancaman yang akan menggantikan peran manusia, namun juga tidak boleh menutup mata terhadap kehadirannya.
Berikut adalah cara pandang yang sehat bagi seorang penulis dalam menyikapi teknologi:
1. Teknologi adalah "Kuas" sedangkan penulis adalah "Pelukisnya"
Seorang pelukis tidak menyalahkan kuas jika lukisannya kurang indah, begitu pula penulis. Teknologi hanyalah perpanjangan tangan. Alat bantu seperti Kecerdasan Buatan tidak memiliki perasaan, memori emosional, atau pengalaman batin. Karya yang menyentuh hati pembaca lahir dari pengalaman manusia, bukan dari algoritma mesin.
Contoh pengalaman batin penulis. Sebagai bentuk originalitas jangan ragu untuk menuliskan curahan isi hati dalam tulisan kita. Karena inilah yang membedakan penulis yang plagiasi dengan yang tidak :
https://www.mahyrasenja.com/2026/06/menjemput-senyum-di-balik-luka-masa-lalu.html
2. Fokus pada "Kemanusiaan" dalam Tulisan
Teknologi mampu menghasilkan teks yang gramatikal secara sempurna, namun teknologi tidak bisa merasakan duka, cinta, atau keraguan yang mendalam. Penulis harus memandang teknologi sebagai penghemat waktu untuk tugas-tugas teknis (seperti mengecek ejaan atau menyusun kerangka), sehingga waktu yang tersisa dapat digunakan untuk memperdalam isi, rasa, dan jiwa dalam tulisan tersebut.
Jadi, karena AI adalah alat bantu maka gunakan alat bantu ini untuk memudahkan pekerjaan kita. Seringkali kita tidak bisa menghasilkan karya karena kesibukan kita. Sehingga peran AI bisa berdampak positif bagi kehidupan kita. Namun, kita harus bijak menggunakannya.
3. Integritas di atas Kemudahan
Cara pandang yang benar adalah mengutamakan kejujuran. Penulis yang beretika memandang teknologi sebagai sarana untuk memperluas jangkauan kreativitas, bukan untuk mengambil jalan pintas yang merugikan orang lain (plagiarisme). Menulis adalah proses berpikir. Jika proses berpikir itu diserahkan sepenuhnya kepada mesin, maka yang dihasilkan bukanlah karya, melainkan sekadar "produk."
4. Menjadi Kurator, Bukan Sekadar Produsen
Di era digital, peran penulis kini bergeser menjadi seorang kurator informasi. Dengan bantuan teknologi, penulis dibanjiri oleh data. Sebagai penulis apa yang harus kita lakukan? Cara pandang penulis harus kritis yaitu sebagai berikut:
1.Mampu menyaring mana informasi yang valid dan mana yang menyesatkan.
2.Mampu memastikan bahwa setiap paragraf yang ia tuliskan telah melalui proses penyuntingan oleh pikirannya sendiri.
3.Adaptasi Tanpa Kehilangan Identitas
Penulis yang cerdas memandang teknologi sebagai tantangan untuk lebih kreatif. Jika mesin bisa menulis artikel umum, maka penulis harus menulis sesuatu yang lebih spesifik, lebih personal, dan lebih otentik. Identitas gaya bahasamu adalah aset paling mahal yang tidak bisa ditiru oleh kecerdasan buatan mana pun.
Contohnya: https://www.mahyrasenja.com/2026/03/menemukan-cahaya-dibalik-redupnya-pelita.html
"Kecerdasan buatan mungkin bisa merangkai kata dengan cepat, tetapi ia tidak pernah bisa menatap mata pembaca dengan empati. Gunakanlah teknologi untuk mempercepat langkah, tetapi biarkan hati dan nuranimu yang menentukan arah."
Penulis akan merasa lebih percaya diri bahwa kehadiran teknologi bukanlah akhir dari profesi mereka, melainkan awal dari era baru di mana penulis yang kreatif dan beretika akan semakin berharga.
Sahabat, saya akan membagikan cara mengecek plagiarism. Kenapa penting? Karena cek plagiarisme adalah langkah penting untuk menjaga integritas karyamu sebagai penulis. Berikut adalah panduan cara melakukan pengecekan beserta daftar aplikasi yang mudah diakses:
Cara Mengecek Plagiarisme dengan Mudah
Secara umum, proses pengecekan hampir serupa di semua platform:
1.Siapkan Teks atau Dokumen: Pastikan tulisanmu dalam format yang didukung (biasanya .docx, .txt, atau .pdf) atau siap untuk disalin-tempel (copy-paste).
2.Akses Situs/Aplikasi: Pilih salah satu layanan cek plagiarisme.
3.Unggah atau Tempel Teks: Masukkan teks kamu ke dalam kotak yang tersedia atau unggah berkas dari perangkatmu.
4.Jalankan Pemindaian: Klik tombol "Check Plagiarism" atau "Scan." Nanti sistem akan membandingkan teks kamu dengan jutaan dokumen dan halaman web di internet.
5.Analisis Hasil: Aplikasi akan memberikan laporan berupa persentase kemiripan. Jika ada bagian yang terdeteksi serupa dengan sumber lain, biasanya sistem akan menyoroti kalimat tersebut dan menunjukkan tautan sumber aslinya.
Tips Cerdas bagi Penulis untuk Menghindari Plagiarisme
Selain menggunakan alat bantu di atas, berikut cara yang bisa kamu terapkan setiap hari agar karyamu selalu orisinal:
1.Riset Mandiri: Sebisa mungkin kembangkan ide dari hasil pengamatan dan risetmu sendiri. Jangan langsung mengandalkan tulisan orang lain.
2.Gunakan Tanda Kutip & Sitasi: Jika kamu mengambil pernyataan atau pendapat dari orang lain, wajib mencantumkan sumber dan memberikan tanda kutip yang jelas.
3.Parafrase dengan Gaya Sendiri: Jika kamu mengambil gagasan dari sumber lain, jangan hanya mengubah satu atau dua kata. Ubahlah struktur kalimat dan gunakan gaya bahasa (diksi) yang memang khas milikmu.
4.Gunakan AI sebagai "Teman Diskusi", Bukan Penulis: Jangan meminta AI untuk menuliskan seluruh isi buku. Gunakan AI hanya untuk menyusun kerangka, mencari sinonim, atau memeriksa tata bahasa.
5.Simpan Catatan Draf: Selalu simpan draf kasar tulisan tangan atau catatan ide. Jika suatu saat karyamu dituduh plagiat, Anda memiliki bukti sejarah proses kreatif yang kamu lalui.
Jika kamu merasa sebuah kalimat terasa "terlalu sempurna" dan tidak seperti gaya bahasamu sendiri, ada baiknya melakukan pengecekan ulang di aplikasi tersebut sebelum karya dipublikasikan atau diserahkan ke penerbit.
Dalam pandangan Islam, meskipun tidak ada istilah "plagiarisme" secara harfiah dalam Al-Qur'an, perbuatan tersebut dikategorikan sebagai bentuk kezaliman, penipuan, dan mengambil hak orang lain secara batil.
Berikut adalah beberapa ayat yang menjadi landasan prinsipil mengenai larangan perilaku yang mencerminkan plagiarisme (mengambil hak orang lain):
1. Larangan Mengambil Hak Orang Lain Secara Tidak Sah
Plagiarisme adalah bentuk mengambil manfaat dari karya yang bukan milik kita, yang dalam Al-Qur'an dilarang keras sebagai cara yang tidak benar (batil). Hal ini terdapat di dalam ayat Al-Qur’an QS. Al-Baqarah: 188 yang berbunyi:
وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya: "Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui."
Sebuah karya adalah bentuk "harta" intelektual. Mengklaim karya orang lain sebagai milik sendiri agar mendapatkan keuntungan (seperti popularitas, nilai, atau uang) termasuk dalam kategori mengambil harta secara batil.
Larangan Mengurangi Hak Orang Lain
Karya seseorang adalah hasil jerih payah (hak) mereka. Mengambil atau tidak mengakui kontribusi orang lain berarti merugikan hak orang tersebut. Hal ini terdapat di dalam Al-Qur’an QS. Hud: 85 yang berbunyi:
وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ
Artinya: "Janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi."
Ancaman bagi Orang yang Berdusta dan Mengaku-aku
Plagiat seringkali dibarengi dengan kebohongan (mengaku itu karyanya sendiri). Islam mencela sikap pendusta yang melampaui batas.
Plagiarisme adalah Kezaliman. Sebuah karya bukan sekadar tumpukan kata, melainkan hasil pemikiran dan waktu yang diinvestasikan oleh penulisnya. Mencurinya adalah tindakan zalim yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Kejujuran adalah Syarat Keberkahan: Ingatkan bahwa ilmu dan karya yang dihasilkan dari cara yang jujur akan jauh lebih berkah dibandingkan karya populer yang dicapai melalui jalan pintas (menjiplak).
Etika adalah Identitas: Penulis yang beretika adalah penulis yang menghargai hak cipta orang lain. Menjadi penulis berarti berkomitmen pada kejujuran dalam menyampaikan ide.
Menjadi penulis yang berintegritas di tengah kemudahan teknologi adalah tantangan besar. Berikut adalah panduan langkah praktis untuk menjaga diri dari godaan plagiarisme, serta penjelasan mengenai etika mencari informasi melalui kecerdasan buatan dari sudut pandang moral dan spiritual.
Langkah Praktis Menjaga Diri dari Godaan Plagiarisme
Plagiarisme sering muncul karena penulis merasa buntu atau ingin cara instan. Berikut cara mengatasinya:
1.Gunakan Metode "Tutup Buku": Saat membaca referensi atau mencari ide dari AI, bacalah sampai paham, lalu tutup jendela aplikasinya. Menulislah di kertas atau aplikasi pengolah kata sendiri tanpa melihat sumbernya. Dengan cara ini, kamu dipaksa menggunakan bahasa kamu sendiri, bukan menyalin susunan kalimat orang lain.
2.Jadikan AI sebagai "Sparring Partner": Jangan meminta AI untuk "menuliskan naskah". Mintalah AI untuk "mengkritik kerangka tulisan saya" atau "berikan saya sudut pandang lain dari topik misalnya tentang teks diskusi." Ketika kamu yang memegang kendali atas struktur dan ide, tulisan itu tetap menjadi milikmu.
3.Budayakan Mencatat Sumber Sejak Awal: Godaan plagiarisme sering muncul karena penulis lupa dari mana ia mendapatkan ide. Biasakan mencatat sumber setiap kali mendapatkan fakta atau teori dari internet atau AI. Jika Anda mencantumkannya, itu bukan plagiarisme, melainkan referensi.
4.Lakukan Pengecekan Mandiri: Sebelum memublikasikan karya, bacalah tulisanmu dengan suara lantang. Jika ada bagian yang terdengar kaku, membosankan, atau terasa "asing" di telinga, besar kemungkinan bagian itu adalah hasil salin-tempel yang belum diolah. Ubahlah bagian tersebut sampai terdengar seperti "suara" sendiri.
5.Bangun Rasa Percaya Diri: Seringkali kita menjiplak karena merasa tulisan kita sendiri kurang bagus. Ingatlah bahwa pembaca mencari kejujuran dan pengalaman pribadimu, bukan kesempurnaan tata bahasa. Kesalahan kecil dalam tulisan yang jujur jauh lebih dihargai daripada teks sempurna yang dicuri.
Apakah Mencari Informasi di AI untuk Mengajar Termasuk Dosa?
Menjawab pertanyaan Anda mengenai apakah mencari informasi di AI untuk mengajarkan orang lain termasuk dosa:
Secara mendasar, AI hanyalah alat (seperti buku, perpustakaan, atau mesin pencari). Hukum menggunakan alat itu bergantung pada tujuan dan cara kita menggunakannya.
Bukan Dosa Jika: Anda menggunakan AI untuk mempercepat proses riset, menyusun modul agar lebih rapi, atau mencari referensi ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam Islam, menyebarkan ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah. Jika AI membantumu menyampaikan ilmu itu dengan lebih baik, maka itu bisa menjadi sarana kebaikan. Namun, bisa menjadi dosa jika:
1.Dusta dan Menipu: Kamu mengambil hasil kerja keras orang lain (lewat AI) lalu mengklaimnya sebagai pemikiran atau hasil karyamu sendiri tanpa menyebutkan sumber atau melakukan pengolahan kembali. Ini adalah penipuan.
2.Menyebarkan Kebohongan: Kamu tidak memverifikasi informasi dari AI (yang sering kali bisa salah atau berhalusinasi), lalu menyebarkannya kepada murid sehingga ia mendapatkan ilmu yang salah. Ini adalah tanggung jawab moral yang besar. Mencari ilmu melalui AI untuk mengajar tidaklah berdosa, selama kamu tetap menjaga kejujuran akademik, memverifikasi kebenaran informasi, dan tetap menggunakan akal budi sendiri dalam mengolah ilmu tersebut agar bermanfaat bagi murid.
Semoga informasi dalam materi ini bermanfaat dan menjadi acuan kita agar tetap semangat berkarya tanpa terpengaruh oleh godaan mesin AI dan kita tetap menjadi penulis yang menjaga originalitas dalam berkarya.
Referensi : Gemini AI

Komentar
Posting Komentar