Pintu Rezeki yang Tertutup

 


Pernikahan bukanlah sekadar penyatuan dua jiwa, melainkan sebuah simfoni peran yang telah digariskan. Namun, di era modern yang menuntut kemandirian, garis batas peran sering kali kabur, menciptakan ketimpangan yang tak disadari. Tulisan ini adalah sebuah perenungan bagi para istri tentang pentingnya menjaga marwah kepemimpinan suami, demi menjaga keberkahan dan terbukanya pintu rezeki dalam rumah tangga.

Tidak ada perempuan yang menyadari sejak awal pernikahan, perempuan sering kali salah mengambil sikap. Perempuan kodratnya tidak boleh melebihi laki-laki. Apa yang terjadi jika, sebagai pemimpin, laki-laki posisinya sangat lemah dan perempuan yang memegang kendali? Ya, tentunya kehancuran rumah tangga yang terjadi.

Kadang, sebagai seorang perempuan, kita merasa mandiri, tidak mau minta uang pada laki-laki, merasa gengsi, dan ingin selalu terlihat sempurna di mata keluarga suami. Kita sendiri yang selalu berupaya untuk terlihat sempurna. Semua hal kita pegang sendiri sampai tidak ada yang menyadari kalau peran suami telah kita rebut. Bahkan, dengan sendirinya, kita mengabaikan suami sampai akhirnya ia merasa tidak berharga.

Jiwa gengsi seorang suami sangat tinggi, tapi kita tidak menyadari sehingga kita dengan segenap tenaga berpura-pura kuat. Jika suami tidak peka, bukankah tugas kita untuk menegurnya? Jangan sampai suami tidak menafkahi dan tidak punya rasa tanggung jawab, sehingga dia mengabaikan keluarga dan hidup dalam ketidakberdayaan. Sebagai seorang pemimpin keluarga, karakternya akan berubah menjadi orang yang rapuh, kurang inisiatif, dan merasa tidak dihargai, sehingga akhirnya pintu rezeki tertutup.

Padahal, rezeki suami untuk anak dan istrinya, sedangkan rezeki istri untuknya. Cukup, jangan ada lagi perempuan yang menggantikan peran suaminya. Jangan ada lagi perempuan yang sok kuat dan gengsi minta uang nafkah pada suaminya. Jangan ada perempuan yang tidak pernah manja, apalagi merengek minta uang belanja pada suaminya. Itu adalah hal yang lumrah. 

Bila suami marah lantas ingin menceraikan karena hanya perkara nafkah, berarti jiwa pemimpin dan rasa tanggung jawabnya telah hilang. Ketika talak terucap dari bibirnya, terlepas sudah tanggung jawab yang dipikulnya. Bila saat ini ada laki-laki yang menunda untuk menikah karena perkara nafkah, menurut saya, laki-laki itu sudah punya kesadaran akan tanggung jawabnya. Namun, sayangnya, zaman sekarang banyak laki-laki yang bersembunyi di ketiak istri. Jiwa pemimpinnya terampas oleh sikap istri yang mandiri dan kuat sehingga suami tidak bisa berperan sebagai pemimpin rumah tangga.

Ketimpangan yang terjadi menyebabkan seorang perempuan atau istri terbiasa mengurus hal yang bersifat domestik sampai nafkah untuk keluarga sendiri tanpa peran laki-laki. Padahal, hal itu terlalu sempurna. Dahulu, peran seorang istri adalah mendidik, tapi sekarang terbalik. Istri kebanyakan bekerja dan suami kebanyakan mendidik di rumah, lalu dengan santai dia bilang, "Tanpa aku bekerja, hidup kita terjamin. 

Kamu sudah mapan dan aku tidak perlu bekerja karena mencari pekerjaan itu sulit." Suami yang mengeluh masalah pekerjaan seharusnya punya perasaan malu, bukan blak-blakan menyatakan hal itu. Di sini ada pergeseran pengaruh dan ternyata berdampak pada karakter serta tertutupnya pintu rezeki suami. Kamu tahu? Pihak keluarga suamimu akan ikut meminta kebaikanmu sampai kamu lupa kalau kamu sudah dimanfaatkan. Ya, kamu jadi sapi perah. 

Akibatnya tubuhmu koyak. Kamu akan zalim pada diri sendiri dan ketika kamu tumbang, barulah kamu menyadari kalau kamu tidak perlu sempurna. Kamu hanya perlu bersikap sesuai kodrat. Jangan terlalu sempurna karena tubuhmu akan marah karena tubuhmu adalah bagian dari tanggung jawabmu. Jaga tubuhmu, dengan berolahraga dan jaga Kesehatan mentalmu.

Maka, untukmu istri yang salehah, jangan jadi sempurna di hadapan suamimu. Setinggi apa pun derajatmu di rumah, kamu punya sosok imam. Dialah pemimpin yang harus kamu hormati. Setinggi apa pun kariermu, mintalah nafkah pada suamimu; jangan pernah mengabaikan kodratmu sebagai istri.

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (QS. An-Nisa: 34) 

Kesimpulannya, menjaga keharmonisan rumah tangga memerlukan kesadaran akan peran masing-masing. Seorang istri yang terlalu dominan, meski dengan niat baik untuk mandiri, secara tidak langsung dapat meredupkan jiwa kepemimpinan suaminya. Mengembalikan peran suami sebagai pelindung dan pemberi nafkah—serta membiarkan istri bersikap selayaknya seorang pendamping yang manja dan menghormati imamnya—adalah kunci untuk menjaga karakter suami tetap kuat, bertanggung jawab, dan membuka lebar pintu rezeki bagi keluarga.

"Setinggi apa pun sayap yang kau bentangkan untuk terbang, jangan pernah lupa bahwa rumah adalah tempatmu kembali."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musuh Kita Diri Sendiri

Motivasi Buah Kebaikan

Review film When gives you tangerines