Ketika Jadi Bahan Omongan Ratu Gosip
Dalam hidup, dunia persahabatan tidak selamanya indah, bukan? Adakalanya kita dikelilingi oleh orang-orang yang toxic. Ya, mereka kerap kali berulah. Ketika kita dijadikan bahan omongan dan berita bohong (hoax), kita tidak perlu resah. Aku punya trik untukmu agar tetap tenang dan tidak terganggu kesehatan mentalnya gara-gara omongan mereka.
Pertama, kamu tidak perlu mendengarkan pernyataan mereka. Diam atau menarik diri jauh lebih baik daripada menanggapi. Tetaplah tersenyum dan segera merefleksi diri. Jangan-jangan selama ini kamu terlalu sering bercerita dan menyebarkan informasi pribadi kepada mereka, sehingga mereka memiliki celah untuk bergosip dan menjadikanmu topik utama.
Di dunia ini, tidak semua orang berniat baik. Jangan bercerita kepada orang yang tukang gosip, apalagi kalau kamu tahu dia sudah terbiasa membicarakan orang lain. Mereka akan memviralkan masalahmu, dan kekuranganmu akan menjadi "buah manis" bagi mereka untuk menertawakan hidupmu dari belakang. Jadi, jangan sembarangan bercerita kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Menjadi versi yang cuek juga tidak apa-apa, selama itu bisa menjaga mentalmu agar tidak jatuh (down). Kedua, fokuskan diri pada kesibukan yang berfaedah, misalnya bekerja, menulis, atau mendengarkan murotal Al-Qur'an. Banyak cara agar kita tetap bisa hidup dan bernapas lega di tengah gosip yang menyerang.
Kalau ada yang bilang kamu begini dan begitu, abaikan saja karena mereka hanyalah penonton yang sedang mencari informasi. Anggap saja mereka netizen yang usil dan kurang pekerjaan, sehingga kamu tidak perlu merasa terganggu. Kamu cukup bergerak dengan tenang tanpa memedulikan gosip yang beredar.
Ketiga, bila ada yang penasaran dan mengamati gerak-gerik kamu, lalu mereka dengan sengaja memberikan pernyataan dengan emosi negatif tanpa sebab, tenanglah. Itu berarti mereka sudah terpengaruh oleh gosip yang beredar sehingga sikapnya terlihat sedikit berbeda. Kamu bisa melihatnya dari ucapan mereka yang tiba-tiba menanyakan hal tidak penting atau sekadar ingin tahu (kepo).
Aku juga pernah menjadi bahan gosip, mulai dari difitnah dekat dengan laki-laki sampai digosipkan akan menempati jabatan tertentu di sekolah. Saat mendengar itu, aku berujar dalam hati, "Siapa juga yang mau?" Lagi pula, untuk apa mengurusi hidup orang lain? Bagiku, jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Aku tidak meminta jabatan; justru jika perlu, tidak usah mendapatkannya supaya tidak ada beban hidup. Aku yakin rezeki akan Allah berikan dari mana saja, tidak mesti melalui jabatan. Kadang aku risih dengan gosip mereka yang mengada-ada.
Keempat, jadikan dirimu prioritas. Cobalah unggah kebiasaan baikmu dan jadilah teladan. Misalnya, kamu aktif dalam kegiatan salat dhuha bersama siswa, aktif berorganisasi, atau membuat konten mengajar. Terkait fenomena ini, Allah SWT sebenarnya sudah mengingatkan kita dalam QS. Al-Hujurat ayat 12:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain..."
Hikmahnya: Perilaku mereka yang sibuk mengorek kesalahan kita adalah cerminan hati yang sedang tidak sehat. Dengan memahami ini, kita bisa lebih berlapang dada karena kesalahan bukan ada pada kita, melainkan pada mereka yang melanggar larangan Allah tersebut.
Kelima, dan yang terpenting, jangan sampai kena mental. Fokuslah pada ibadah dan perbanyak melafazkan istigfar. Ingatlah bahwa lingkunganmu bisa membentuk siapa dirimu, maka jangan biarkan gosip murahan membuatmu minder apalagi trauma. Hidup ini harus terus berjalan tanpa perlu memusingkan hal-hal yang tidak penting. Kamu hanya perlu fokus pada pekerjaan, perkembangan diri, dan hidupmu sendiri.
Seiring berjalannya waktu, berita tentangmu akan berganti topik. Semua hiruk-pikuk ini lumrah terjadi di lingkungan yang toxic. Namun ingat, orang-orang yang sering menggosip tentang kamu akan membayar harganya sendiri. Tenang, ada Allah, kamu tidak perlu khawatir. Santai saja. Ingatlah, semakin kamu berada di atas, akan semakin banyak orang yang membicarakan kamu. Ini adalah hukum alam.
Hanya orang-orang kuat yang tetap berdiri meskipun badai datang, dan aku harap kamu tetap kokoh meskipun terjangan badai hampir meruntuhkan kakimu saat berdiri. "Apa yang orang lain katakan tentangmu adalah refleksi dari siapa mereka, bukan siapa kamu. Fokuslah pada langkahmu, karena pohon yang berbuah manis sajalah yang akan dilempari batu." Wallahu alam bissawab.

Komentar
Posting Komentar